Find and Follow Us

Selasa, 28 Januari 2020 | 09:35 WIB

Kasus AKBP Andi Sinjaya, Polisi Diminta Transparan

Selasa, 14 Januari 2020 | 15:14 WIB
Kasus AKBP Andi Sinjaya, Polisi Diminta Transparan
Wakil Ketua Komisi III dari Fraksi Nasdem Ahmad Sahroni - (Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta- Polda Metro Jaya diminta transparan menyelidiki dugaan pemerasan yang dilakukan mantan Kasat Reskrim Polres Jaksel AKBP Andi Sinjaya Ghalib sebagaimana disampaikan oleh Indonesia Police Watch.

"Saya minta Kapolda Matro Jaya bergerak cepat memerintahkan Propam menyelidiki dan mengungkap kasus ini secara transparan,"kata Wakil Ketua Komisi III dari Fraksi Nasdem Ahmad Sahroni di Jakarta, Selasa (14/1/2020).

Sahroni menekankan, di tengah gencarnya Polri membangun profesionalisme dalam rangka membangun kepercayaan masyarakat, kasus dugaan pemerasan yang dilakukan oleh AKBP Andi Sinjaya justru mencoreng wajah polri.

Namun sebagai institusi penegak hukum yang mengedepankan asas praduga tak bersalah, Sahroni meminta Polda Metro Jaya secara terbuka melakukan pemeriksaan terhadap Ketua Presidium IPW Neta S Pane sebagai pihak yang membongkar kasus tersebut ke publik. Demikian halnya dengan Budianto dan Andi Sinjaya sebagai para pihak yang diduga berkaitan dengan dugaan pemerasan senilai Rp 1 miliar.

"Kita menganut asas presumtion of innocent dalam penegakan hukum. Agar semua terang benderang dan tidak ada fitnah maka Polda wajib memeriksa Neta Pane, Budianto, dan Andi Sinjaya," papar Sahroni.

Hal ini menurut Sahroni perlu dipastikan mengingat kesimpangsiuran informasi sebagaimana diberitakan media massa terkait kasus tersebut. Sebab, di satu sisi Neta S Pane mengungkap isu dugaan pemerasan oleh Andi Sinjaya, di sisi lain pihak kepolisian membantahnya.

"Institusi polri tidak boleh dikacaukan oleh informasi yang masih dipertanyakan validitasnya. Kalau memang pemerasan itu benar ya diungkap, sebaliknya jika tidak benar dan fitnah harus ditindaklanjuti lewat mekanisme hukum yang berlaku," ujar Sahroni.

Sebelumnya IPW mengembuskan isu seputar informasi pencopotan jabatan AKBP Andi Sinjaya Ghalib sebagai Kasat Reskrim Polres Jaksel didasari oleh dugaan pemerasan yang dilakukan oleh Andi terhadap pelapor bernama Budianto.

Dalam keterangan tertulis, Ketua Presidium IPW Neta S Pane mengatakan bahwa pencopotan jabatan Kasat Reskrim Polres Jakarta Selatan itu diduga karena ada oknum penyidik Polres Jakarta Selatan yang melakukan pemerasan untuk menyelesaikan suatu kasus tindak pidana. Oknum polisi itu diduga meminta uang senilai Rp 1 miliar.

"Indonesia Police Watch (IPW) memberi apresiasi pada Polri yang sudah mencopot penyidik Polres Jakarta Selatan yang meminta uang Rp 1 miliar kepada pelapor Budianto," ujar Neta. [tar]

Komentar

x