Find and Follow Us

Selasa, 10 Desember 2019 | 07:56 WIB

Geger Telur Berbahaya, Ini Penjelasan Dinkes Jatim

Jumat, 22 November 2019 | 10:00 WIB
Geger Telur Berbahaya, Ini Penjelasan Dinkes Jatim
(beritajatim)
facebook twitter

INILAHCOM, Surabaya - Maraknya isu temuan telur berbahaya yang mengandung dioksin di daerah Bangun dan Tropodo membuat masyarakat resah. Pasalnya lembaga peneliti International Pollutants Elimination Network (IPEN), sebuah lembaga lingkungan hidup mengklaim berdasarkan hasil uji laboratorium kandungan dioksin dalam telur ayam di Tropodo adalah (200 pg TEQ g-1 lemak).

Ini artinya memiliki tingkat kontaminasi dioksin nomor dua dari tingkat dioksin telur kawasan Asia, yaitu hasil penelitian di Bien Hoa, Vietnam (248 pg TEQ g-1 lemak). Bien Hoa adalah sebagai salah satu lokasi paling terkontaminasi dioksin di dunia.

Terkait hal itu, Kepala Dinas Kesehatan Jawa Timur Dr Kohar Hari Santoso memastikan bahwa telur yang diteliti itu bukanlah hasil dari perternakan ayam atau telur. Telur itu adalah telur dari ayam kampung di sekitar daerah Tropodo yang dekat dengan pabrik tahu berbahan bakar sampah dan di daerah Bangun yang memang menjadi daerah pengolahan sampah.

Telur yang dijual di pasaran tidak berasal dari daerah tersebut oleh karenanya Kohar mengimbau masyarakat agar tak terlalu khawatir akan isu telur ayam mengandung salah satu bahan kimia terlarang dan berbahaya.

"Telur yang dijual di pasaran pastinya berasal dari agen dan peternak yang sudah diuji kualitasnya. Di daerah tersebut tidak ada peternak ayam ataupun telur," terang Kohar dikonfirmasi di Surabaya, Kamis (21/11/2019).

Telur mengandung bahan kimia ini bisa jadi disebabkan oleh pembakaran sampah plastik yang kurang sempurna sehingga menyebabkan zat keluar bernama dioksin. Dioksin secara kimiawi bernama TCC. Zat dioksin juga bisa ada di makanan dalam jumlah rendah ataupun banyak.

Kohar menyatakan, Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan jumlah ambang batas manusia boleh mengonsumsi zat dioksin.

"Jadi tidak bisa dipukul rata, ayam ini deket sampah, ada dioksin. Harus dilihat dalam kadar dioksinnya berapa. Yang harus dilihat lebih lanjut adalah ayamnya. Ternyata telur yang mengandung dioksin dari ayam lepasan. Beda masalahnya jika ayam peternakan yang memang untuk sentra produksi telur. Mereka sudah diperiksa dan aman," ujar Kohar.

Dia mengakui, dioksin yang dikonsumsi dalam kadar cukup tinggi bisa berpengaruh pada kesehatan. Pengaruhnya mulai kelainan di kulit, bisa menyebabkan keluhan pada lapisan dalam rahim wanita, menyebabkan nyeri dan bahkan kanker.

"Tapi jangan terlalu beropini, harus dilihat kandungan berapa sesuai yang ditetapkan WHO. Karena zat dioksin tidak hanya dari plastik tapi juga dari gas pencemaran udara," kata dia.

Untuk pengobatannya, Kohar mengatakan tergantung penyakit yang diderita setelah mengonsumsi makanan mengandung zat dioksin. Jika di kulit maka perlu pengobatan di kulit.

"Kalau kanker, tergantung jenis kankernya juga. Dioksin banyak di makanan berlemak. Karena karakter dioksin senang lemak tapi tidak senang air," ucapnya.

Mengenai pencegahan agar tak makan makanan mengandung dioksin, Kohar menyarankan tidak mengonsumsi telur secara berlebihan.

"Karena terlalu banyak mengonsumsi telur tidak bagus. Kemudian harus memperhatikan kualitas makanan. Kadar paling tinggi zat dioksin bisa dari daging yang berlemak," tukasnya. [beritajatim]

Komentar

x