Find and Follow Us

Selasa, 10 Desember 2019 | 08:04 WIB

Rangkulan Paloh dan Sohibul Banyak Tafsir

Selasa, 12 November 2019 | 11:19 WIB
Rangkulan Paloh dan Sohibul Banyak Tafsir
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Pada Kongres Partai NasDem beberapa hari lalu, ada momen menarik ketika Ketua Umum Paryai NasDem Surya Paloh merangkul Presiden PKS Sohibul Imam.

Sekjen Sadulur Jokowi, Bambang Saputra, menilai rangkul-merangkul antara Surya Paloh dan Sohibul Iman jangan ditafsirkan terlalu jauh secara politik, sehingga menimbulkan banyak makna yang bersifat kemungkinan-kemungkinan.

"Kejadian itu tafsirkan saja secara lahiriah yakni rangkul-merangkul yang bermakna salam persahabatan antar sesama elit partai," ujar Bambang saat berbincang denan wartawan, Selasa (12/11/2019).

Menurutnya, kalau banyak pengamat politik lain yang menafsirkan terlalu jauh, dengan anggapan sebagai isyarat akan berkoalisi menggadang capres-cawapres tertentu di 2024, dalam alam politik itu sah-sah saja. Pemilu 2024 masih jauh, kemungkinan-kemungkinan berubah juga bisa-bisa saja.

Pendeknya, sambung pengamat politik-hukum itu, semua masih bersifat kemungkinan dan bukan final. Karena tidak ada konsolidasi politik yang bersifat final, semua harus dikawal permenitnya, sebab politik itu paling dinamis, setiap saat bisa berubah mengikuti badai politik yang lebih kuat dan yang bersifat lebih menguntungkan kubunya masing-masing.

"Kemudian juga bisa saja ditafsirkan, ibarat kapal maka mereka melempar benda ke lautan, sehingga ingin melakukan uji coba. Andai publik menyambut baik maka mereka akan meneruskan ide-ide politiknya. Tapi andai melempem mungkin nada bicara apologi politiknya pun akan ditekankan pada tafsiran bahwa rangkul-merangkul itu lebih kepada simbol persahabatan antar sesama petinggi partai.

Tampak akhirnya rangkul-merangkul itu memang lebih bersifat politis. Sebagai isyarat bahwa mereka melempar ke publik bahwa siapa-siapa yang digadang-gadang untuk 2024 bakal diterima dengan baik atau tidak oleh publik. Inilah titik awal indikatornya buat mereka, apakah bakal capres yang digadang itu diterima atau tidak oleh publik.

Andai tidak diterima publik maka mereka akan segera mencari alternatif dan kemungkinan-kemungkinan lainnya yang lebih menguntungkan. [rok]

Komentar

x