Find and Follow Us

Selasa, 19 November 2019 | 05:54 WIB

Upacara Hari Santri di Tengah Deburan Ombak Sungai

Selasa, 22 Oktober 2019 | 19:35 WIB
Upacara Hari Santri di Tengah Deburan Ombak Sungai
(Foto: Beritajatim)
facebook twitter

INILAHCOM, Jombang - Matahari mulai tergelincir ke arah barat ketika puluhan orang berseragam putih berbaris rapi di bantaran Sungai Brantas, Dusun Pulokunci, Desa Jombatan, Kecamatan Kesamben, Jombang, Selasa (22/10/2019). Semburat sinar merah tembaga menghiasi angkasa sore itu.

Mereka adalah para peserta upacara dalam rangka memperingati HSN (Hari Santri Nasional) 2019. Tua, muda, pria dan wanita mengikuti kegiatan tersebut. Yang pria mengenakan sarung dan berpeci, sedang para wanita terbalut jilbab dengan seragam warna putih. Upacara berjalan khidmat. Di sela itu, sesekali terdengar deburan ombak sungai. Maklum saja, lokasi upacara berada di tepi dam karet atau bendungan karet.

Upacara berlangsung penuh semangat. Mulai dari pengibaran bendera merah putih, pembacaan Pancasila, Ikrar Santri Indonesia, hingga menyanyikan lagu Subhanul Wathon. Bahkan, saat menyanyikan lagu yang diciptakan KH Wahab Chasbullah itu, pancaran semangat tergambar jelas dari sorot mata mereka.

Seiring lagu Subhanul Wathon berkumandang, tangan para peserta upacara mengepal ke udara, bergerak-gerak mengikuti irama. Sementara peserta upacara dari kalangan anak-anak, menggenggam bendera merah putih berukuran kecil. Bendera itu berkibar-kibar dipermainkan semilir angin di tepi sungai.

Memang, HSN di Kecamatan Kesamben ini diperingati secara berbeda, yakni memilih bantaran sungai sebagai lokasi upacara. Semua tidak lepas dari peran Pengurus Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor, setempat.
Bertindak sebagai pembina upacara adalah Ketua PAC GP Ansor Kesamben Akhmad Toni Syaifuddin. Sedangkan pemimpin upacara adalah Adit, anggota Banser dari Satkoryon Kesamben.

Usai upacara, Toni menjelaskan, dipilihnya lokasi pinggir Sungai Brantas bukan tanpa alasan. Selain unik, Sungai Brantas merupakan urat nadi kehidupan bagi warga sekitar. Dari sungai itulah ratusan hektar sawah terairi. Dari sungai itu pula, warga menggantungkan hidup.

"Sungai merupakan urat nadi kehidupan. Begitu juga dengan Sungai Brantas yang melintasi Kecamatan Kesamben. Makanya, sungai ini harus kita jaga. Santri harus memiliki kepedulian terhadap kebersihan sungai. Yakni dengan cara tidak membuang sampah sembarangan. Itu beberapa alasan mengapa kita menggelar upacara HSN 2019 di bantaran Brantas atau tepatnya di tepi dam karet (bendungan karet) Desa Jombatan," ujar Toni. [beritajatim]

Komentar

x