Find and Follow Us

Kamis, 21 November 2019 | 06:24 WIB

Suhu Panas Cukup Tinggi, Ini Penjelasan BMKG

Oleh : Willie Nafie | Selasa, 22 Oktober 2019 | 16:17 WIB
Suhu Panas Cukup Tinggi, Ini Penjelasan BMKG
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Dalam beberapa hari terakhir BMKG mencatat suhu udara maksimum di sejumlah daerah di Indonesia mencapai 37 derajat celcius sejak 19 Oktober 2019.

Bahkan stasiun pengamatan BMKG di Sulawesi mencatat suhu maksimum tertinggi yaitu, Stasiun Meteorologi Hasanuddin (Makassar) mencapai 38.8 derajat celcius, diikuti Stasiun Klimatologi Maros 38.3 derajat celcius, dan Stasiun Meteorologi Sangia Ni Bandera 37.8 derajat celcius.

Adapun suhu tersebut merupakan catatan suhu tertinggi dalam satu tahun terakhir, Lantaran bila dibandingkan saat periode Oktober 2018 tercatat suhu maksimum mencapai 37 derajat celcius.

"Stasiun-stasiun meteorologi yang berada di pulau Jawa hingga Nusa Tenggara mencatatkan suhu udara maksimum terukur berkisar antara 35 - 36.5 derajat celcius pada periode 19 - 20 Oktober 2019," kata Deputi Bidang Meteorologi R. Mulyono R. Prabowo, lewat keterangan persnya, Selasa (22/10/2019).

Mulyono menjelaskan pada bulan September, Matahari berada di sekitar wilayah khatulistiwa, terus bergerak ke belahan Bumi selatan hingga bulan Desember. Sehingga, sesuai persebaran suhu panas dominan berada di selatan Khatulistiwa, sebab kaitannya dengan gerak semu Matahari.

"Sehingga pada bulan Oktober ini, posisi semu matahari akan berada di sekitar wilayah Indonesia bagian Selatan (Sulawesi Selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan sebagainya)," jelasnya.

Akirhnya, radiasi matahari diterima oleh permukaan bumi di wilayah tersebut relatif menjadi lebih banyak, sehingga akan meningkatkan suhu udara pada siang hari.

Sementara pantauan dua hari terakhir, atmosfer di wilayah Indonesia bagian selatan relatif kering sehingga sangat menghambat pertumbuhan awan yang bisa berfungsi menghalangi panas terik matahari.

"Minimnya tutupan awan ini akan mendukung pemanasan permukaan yang kemudian berdampak pada meningkatnya suhu udara," jelasnya.

Dalam waktu sekitar satu minggu kedepan masih ada potensi suhu terik di sekitar wilayah Indonesia mengingat posisi semu matahari masih akan berlanjut ke selatan dan kondisi atmosfer yang masih cukup kering sehingga potensi awan yang bisa menghalangi terik matahari juga sangat kecil pertumbuhannya.

BMKG mengimbau masyarakat terimbas suhu udara panas banyak minum air putih guna menghindari dehidrasi, mengenakan pakaian yang melindungi kulit dari sinar matahari jika beraktivitas di luar ruangan, dan mewaspadai aktivitas dapat memicu kebakaran hutan dan lahan khususnya di wilayah-wilayah yang memiliki potensi tinggi karhutla.

"Selain itu, BMKG juga mengimbau masyarakat untuk mewaspadai adanya angin kencang yang berpotensi terjadi di pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Selatan," pungkasnya. [adc]

Komentar

Embed Widget
x