Find and Follow Us

Rabu, 16 Oktober 2019 | 03:12 WIB

Dubes RI Luncurkan Buku Dari KYIV Untuk Indonesia

Oleh : Fadhly Zikri | Kamis, 10 Oktober 2019 | 23:19 WIB
Dubes RI Luncurkan Buku Dari KYIV Untuk Indonesia
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh untuk negara Ukraina, Georgia dan Armenia Yuddy Chrisnandi meluncurkan buku Dari KYIV Menulis Indonesia. Buku itu ditulisnya sejak menjabat tahun 2017 lalu.

"Buku Dari KYIV Menulis Indonesia, merupakan kumpulan tulisan yang terbagi menjadi tiga bagian. Buku ini merupakan benang merah pandangan, kepedulian dan visi ke depan tentang pertahanan dan keamanan Indonesia, baik dari aspek geopolitik, ekonomi maupun pemetaan politik dalam negeri," kata Yuddy melalui keterangannya, Kamis (10/10/2019).

Pada bagian awal buku itu, ia memulai dengan Populisme di Era Tekonologi Informasi. Pada tulisan ini Ia menyoroti tentang terjadinya perubahan revolusioner kehidupan bangsa dan negara yang bergeser dari tata nilai communal state menjadi tata nilai global individual yang disebabkan oleh kemajuan IT.

"Teknologi Informasi bahkan kini telah menjadi kekuatan baru yang mengendalikan tatanan sosial budaya, mempengaruhi perdagangan domestik dan internasional, merubah peta perpolitikan dan secara drastis merevolusi sistim pertahanan dan keamanan dunia," tuturnya.

"Kini, negara-negara maju membelanjakan sebagian besar anggaran militernya untuk belanja teknologi informasi berbasis data, karena mereka meyakini dengan penguasaan itu mereka akan unggul beberapa langkah di depan," lanjutnya.

Menurut Yuddy, ke depan, penguasaan teknologi informasi, penguasaan Big Data, penguasaan algortima dan artificial intellegence akan menjadi senjata yang paling berbahaya bagi kelangsungan hidup bangsa-bangsa di dunia. Menurutnya hal itu jauh lebih berbahaya sejak penemuan bom atom jelang akhir perang dunia ke dua. Teknologi ini lanjutnya mampu men-drive perilaku, kebiasaan, pemikiran manusia secara massal dalam waktu yang singkat.

"Pertahanan di masa depan tidak akan lagi mengandalkan alat dan sistem persenjataan konvesional seperti pesawat tempur, peluru kendali yang canggih, maupun penggunaan persenjataan pemusnah massal lainnya. Alat perang konvensional itu nantinya hanya akan jadi barang rongsokan yang ketinggalan zaman. Perang di masa yang akan datang akan dikendalikan oleh suatu system algortima yang mengendalikan seluruh informasi vital individual setiap manusia, di mana system ini mampu berjalan sendiri memprovokasi suatu suatu kelompok masyarakat, bangsa-bangsa yang berpotensi timbulkan chaos kemanusiaan di negara tertentu dan berimplikasi dampak buruknya juga bagi negara lainnya," paparnya.

System Algoritma ini kata Yuddy, mengusai dan jadi pengendali seluruh kontrol peralatan perang yang paling canggih sekalipun tanpa tangan-tangan manusia yang terlibat di dalamnya. Dewasa ini, kebangkitan kekuasaan kercerdasan buatan yang justru menjadi musuh nomor satu bagi manusia.

"System ini tidak terikat oleh batas-batas negara, tidak terbelenggu oleh batasan-batasan yuridiksi hukum, karena ia bergerak di ruang-ruang yang tak terjangkau oleh dimensi hukum yang ada," kata Yuddy.

Yuddy mengharapkan buku yang di edit oleh editor Syafrizal Rambe itu, dapat menjadi referensi akademis bagi para pengambil keputusan dalam menentukan arah kebijakan negara ke depan. Dari KYIV ia menulis tentang bagaimana Indonesia seharusnya untuk berselancar di atas gelombang revolusi dunia.

Menurut Guru Besar Komunikasi Universitas Indonesia Ibnu Hamad, Duta Besar memiliki peran dealer atas negara yang diwakilinya.
Yuddy menurutnya berperan menjadi dealer yang tidak biasa. Ia adalah tipe dealer yang kreatif dan inovatif. "Dari pandangan-pandangan yang dituliskannya di buku ini, sepertinya dia bukan ingin menjalankan misi sebagai wakil RI di luar negeri, Ukraina, Armenia dan Georgia, melainkan juga melaksanakan tugas kepemimpinan (leadership) pada saat melaksanakan tugasnya sebagai Duta Besar.

Komentar

x