Find and Follow Us

Rabu, 16 Oktober 2019 | 03:09 WIB

Dirut Perindo Jadi Tersangka Suap Impor Ikan

Oleh : Ivan Setyadhi | Rabu, 25 September 2019 | 01:00 WIB
Dirut Perindo Jadi Tersangka Suap Impor Ikan
Wakil Ketua KPK Saut Situmorang - (inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Direktur Utama (Dirut) Perum Perikanan Indonesia (Perindo) Risyanto Suanda (RSU) sebagai tersangka.
Kasusnya, dugaan penerimaan suap dalam kasus impor ikan. Risyanto jadi tersangka bersama Direktur PT. Navy Arsa Sejahtera, Mujib Mustofa (MMU).
"KPK meningkatkan status penanganan perkara ke penyidikan dengan dua orang sebagai tersangka, diduga sebagai pemberi MMU dan diduga sebagai penerima RSU," kata Wakil Ketua KPK Saut Situmorang dalam konferensi pers di Gedung KPK, Selasa (24/9/2019).
Saut menjelaskan, Perum Perindo merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang memiliki hak untuk
melakukan impor ikan."Setelah izin dikeluarkan PT Perindo kemudian bisa melakukan impor langsung ke negara dituju," ucap Saut.
Pada 16 September 2019, MMU bertemu dengan RSU di salah satu hotel kawasan Jakarta Selatan. Karena RSU menganggap MMU berhasil mendatangkan ikan. RSU menanyakan apakah MMU sanggup jika diberikan kuota impor ikan tambahan sebesar 500 ton untuk Oktober 2019.
"MMU menyatakan kesanggupannya dan diminta oleh RSU untuk menyusun daftar kebutuhan impor ikan yang diinginkan," terang Saut.
Pada pertemuan tersebut, RSU kemudian menyampaikan permintaan uang sebesar USD 30 ribu kepada MMU. Uang tersebut diberikan lewat perantara yang bernama ASL.
Selanjutnya, pada 19 September 2019 RSU dan MMU bertemu di salah satu cafe di Jakarta Selatan. MMU menyampaikan daftar kebutuhan impor ikannya kepada RSU. Daftar tersebut berbentuk tabel yang berisi informasi jenis ikan dan jumlah yang ingin diimpor dengan commitment fee yang akan diberikan kepada pihak Perum Perindo untuk setiap kilogram ikan yang diimpor. Commitment fee yang disepakati adalah sebesar Rp 1.300.
"KPK juga akan mendalami dugaan penerimaan sebelumnya dari perusahaan importir lain yaitu sebesar USD30 ribu, SGD30 ribu dan SGD50 ribu," tegas Saut. [wll]

Komentar

x