Find and Follow Us

Jumat, 18 Oktober 2019 | 14:46 WIB

Evakuasi Hiu di PLTU Paiton Dapat Apresiasi

Sabtu, 21 September 2019 | 16:36 WIB
Evakuasi Hiu di PLTU Paiton Dapat Apresiasi
(Foto: beritajatim)
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta - Tim Evakuasi Rescue Whale Shark Paiton yang berhasil mengevakuasi hiu "paitonah" dari kanal inlet di sekitar Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Paiton, Jawa Timur mendapat apresiasi dari Protection of Forest and Fauna (Profauna).

"Kami secara obyektif sangat mengapresiasi tindakan penyelamatan hiu paus tersebut dan membawanya kembali ke laut lepas, karena sebenarnya tidak banyak orang yang peduli terhadap hal tersebut," ungkap Ketua Profauna Indonesia Rosek Nursahid, Sabtu (21/9/2019).

Profauna Indonesia merupakan organisasi independen non profit berjaringan internasional, yang bergerak di bidang perlindungan hutan dan satwa liar dan didirikan tahun 1994 di Malang, Jawa Timur.

Sebelumnya, seekor Hiu Paus atau Rhincodon typus terjebak dalam kanal inlet PLTU Paiton sejak awal September. Hiu Paus ini diduga terjebak di kanal inlet setelah kehilangan daya navigasinya atau kehilangan arah akibat pengaruh sonar dari kapal-kapal yang berlayar di laut lepas, saat mencari makan berupa plankton yang pada periode saat ini memang banyak tersedia di perairan lepas pantai Jawa Timur.

Dugaan lainnya, gelombang laut menyebabkan hiu paus terseret ke perairan tangkap. Ada teori lainnya yang menyebut polusi telah menyebabkan sumber makanan semakin sulit dicari, sehingga hiu paus harus berenang lebih jauh untuk mengejar makanan mereka.

Hiu paus yang mempunyai kebiasaan berenang secara individu saat mencari makanan ini termasuk ikan yang dilindungi oleh Pemerintah Republik Indonesia lewat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 18/KEPMENKP/2013. Hiu paus atau kerap disebut Hiu totol oleh nelayan setempat, dilindungi dengan alasan jumlahnya semakin berkurang, akibat mudah tertangkap secara tidak sengaja oleh nelayan (by-catch).

Penyelamatan dilakukan Tim Evakuasi Rescue Whale Shark Paiton yang dilakukan selama empat hari, sejak 16 September hingga 19 September 2019. Dalam laporannya, Ketua Tim Evakuasi Rescue Whale Shark Paiton, Letkol Imam Wibowo menyebut kegiatan evakuasi dilaksanakan dengan menggunakan beberapa metode yang sesuai dengan prinsip Animal Walfare serta keamanan dan keselamatan personil.

Mengomentari aksi penyelamatan tersebut, Nursahid yang juga pendiri Profauna Indonesia menyebut langkah ini sebagai "luar biasa," apalagi melibatkan semua unsur terkait mulai dari aparat TNI, pihak kementerian, nelayan, dan juga PJB Paiton.

"Itu luar biasa, karena masih banyak yang mau membantu, dan banyak pihak yang mau ikut terlibat," jelasnya.

Mulai tingginya kesadaran terhadap lingkungan sekitar, khususnya dalam hal keselamatan makhluk hidup langka termasuk fauna dan flora, kata Nursahid, tak lepas dari dukungan media sosial yang begitu mudah diakses pada saat ini.

Mengacu pada laporan tertulis Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSL) Denpasar Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), ikan hiu paus dengan jumlah puluhan ekor, biasa muncul di daerah sekitar Perairan Pasuruan pada bulan Juli.

Pada bulan Agustus hingga September, kawanan ikan ini akan mengarah ke Timur menuju perairan Probolinggo. Kemudian mereka bergerak ke perairan Situbondo pada bulan Desember hingga Januari, dan diprediksi bermigrasi ke Luar Selat Madura menuju Benua Australia atau ke Sulawesi hingga Filipina.

Dikatakan Nursahid, perpindahan kawanan ini bergantung dari sumber makanan (plankton dan ikan kecil). Salah satu tempat yang menjadi sumber makanan adalah perairan sekitar PLTU Paiton. Dengan masih banyaknya mangrove dan terumbu karang yang menjadi tempat ikan serta adanya muara beberapa sungai yang kaya akan nutrien, membuat hiu paus sering muncul di sekitar perairan PLTU Paiton. [beritajatim]

Komentar

Embed Widget
x