Find and Follow Us

Senin, 23 September 2019 | 02:32 WIB

19 Kecamatan di Bojonegoro Krisis Air Bersih

Minggu, 25 Agustus 2019 | 22:09 WIB
19 Kecamatan di Bojonegoro Krisis Air Bersih
(beritajatim)
facebook twitter

INILAH.COM, Bojonegoro - Sedikitnya 19 kecamatan yang ada di Kabupaten Bojonegoro mulai kekurangan air bersih. Kekeringan tersebut berdampak pada 79.289 jiwa, 23.058 kepala keluarga (KK), yang tersebar di 120 dusun dan 75 desa.

Data tersebut dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bojonegoro per awal Agustus 2019. Kepala Pelaksana BPBD Bojonegoro, Umar Ghoni mengatakan, kekeringan yang terjadi di Bojonegoro kategorinya masih kering langka dengan jarak sumber sekitar 1,5 sampai 3 kilometer.

"Kalau yang kategori kering kritis ini masih jarang terjadi, termasuk kering langka terbatas yang berjarak 0,5 1,5 kilometer," katanya sesuai data daerah kekeringan di Bojonegoro, Minggu (25/8/2019).

Kecamatan yang paling banyak mengalami kekeringan adalah Sumberejo dan Sugihwaras. Di dua kecamatan itu ada 10 desa yang mengalami kekeringan. Kemudian, Kecamatan Ngasem, sembilan desa, dan Kedungadem ada delapan desa. Sisanya, beberapa kecamatan ada yang satu sampai empat desa.

Kekeringan tersebut diperkirakan semakin meluas, karena sesuai dengan prakiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pada 2019-2020 musim kemarau akan lebih panjang, sehingga awal musim hujan mengalami kemunduran.

Kondisi iklim di wilayah kepulauan Indonesia sangat dipengaruhi oleh keadaan suhu muka air laut, baik suhu muka air laut yang ada di kepulauan Indonesia maupun yang berada di Samudra Pasifik dan Samudra Hindia.

Puncak musim hujan pada 2019/2020 diprediksi akan terjadi pada Januari-Februari 2020. Menghadapi kondisi puncak hujan perlu diwaspadai wilayah yang rentan terhadap bencana yang ditimbulkan oleh curah hujan yang tinggi yaitu banjir dan tanah longsor.

Sementara Kepala Bidang Pemadaman, Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Bojonegoro, Sukirno mengatakan, selama musim kemarau tahun 2019 peristiwa kebakaran terjadi sebanyak 75 kali dengan nilai kerugian sebesar Rp 2,3 miliar. Dengan rincian, kebakaran rumah 24 kali kejadian, kebakaran hutan dan lahan 21 kali, kebakaran kendaraan 6 kali, tempat usaha 15 kali dan lain-lain, 9 kali. [beritajatim]

Komentar

Embed Widget
x