Find and Follow Us

Senin, 23 September 2019 | 07:01 WIB

Penganiayaan Santri Berujung Kematian di Mojokerto

Santri di Mojokerto Tewas Akibat Tengkorak Retak

Oleh : Happy Karundeng | Kamis, 22 Agustus 2019 | 08:01 WIB
Santri di Mojokerto Tewas Akibat Tengkorak Retak
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Sidoardjo - Kapolres Mojokerto, AKBP Setyo Koes Heriyatno mengatakan, hasil otopsi jenazah AR (17) santri yang meninggal diduga dianiaya senior sudah keluar. Diketahui korban mengalami keretakan pada tengkorak kepala.

"Dari hasil otopsi akibat luka di kepala. Tengkorak belakang pecah, itu hasil otopsi makanya kita cari sebabnya kenapa. Penyebab kematian karena pecah tengkoraknya," katanya di Sidoardjo, Rabu (21/8/2019).

Ia pun meminta waktu untuk terus mendalami kasus ini. Polisi sedang melakukan pra rekonstruksi untuk mencari tahu lebih dalam terkait dugaan penganiayaan yang mengakibatkan kematian ini. Setidaknya ada empat orang saksi yang sudah diperiksa polisi.

"Saya masih minta waktu, kan belum 124 jam. Ini sedang di pra rekonstruksi karena menghilangkan nyawa seseorang itu harus jelas perannya. Jelas sebab kematiannya dan sebagainya jadi masih didalami. Jadi masih pra rekonstruksi. Saya jamin sebelum 124 jam sudah akan kita realese. Ada empat orang diperiksa sekarang masih pra rekonstruksi," ungkapnya, Rabu (21/8/2019).

Diberitakan sebelumnya, Seorang santri di Mojokerto, AR (17) meninggal dunia, Selasa (20/8/2019). AR meninggal dunia diduga sebagai korban aksi penganiayaan seorang senior di pesantren tempatnya menimba ilmu.

Dari informasi yang didapat, penganiayan dilakukan lantaran korban dan satu santri lainnya keluar ponpes tanpa izin. Dua orang santri senior kemudian mencari keberadaan korban dan satu santri temannya tersebut.

Setelah diketahui berada di kamar 5 yang ada di lantai II, kedua santri senior yang merupakan petugas keamanan langsung melakukan penganiayaan terhadap korban dan satu orang santri lainnya. Akibat penganiayaan tersebut, korban mengalami muntah darah.

Korban dibawa ke RSUD Prof Dr Soekandar, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto. Namun akhirnya korban dirujuk ke RSI Sakinah di Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto dan meninggal di rumah sakit Nahdhatul Ulama (NU) tersebut.

Teman korban, APGR (15) mengatakan, kedua santri senior tersebut membangunkannya kemudian melakukan penganiayaan.[beritajatim]

Komentar

Embed Widget
x