Find and Follow Us

Senin, 23 September 2019 | 07:12 WIB

Santri di Mojokerto Tewas Akibat Luka di Kepala

Oleh : Happy Karundeng | Rabu, 21 Agustus 2019 | 06:03 WIB
Santri di Mojokerto Tewas Akibat Luka di Kepala
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Mojokerto - Kapolsek Mojosari Kompol Anwar Sudjito mengatakan, dari penyelidikan sementara lewat pernyataan saksi diketahui AR (17) santri di Mojokerto meninggal akibat luka di bagian belakang kepala usai dianiaya senior.

"Penyebab meninggalnya korban luka di kepala bagian kepala belakang sebelah kanan, informasi dari saksi ada pukulan dan tendangan," ungkapnya, Selasa (20/8/2019).

Ia menambahkan, dari keterangan saksi ada terjadi pemukulan dan tendangan yang dilakukan pelaku. Penganiayaan dilakukan dengan menggunakan tangan kosong sebanyak dua kali. Informasi dari saksi, saat mendapatkan tendangan korban terjatuh dan kepala korban membentur tembok sehingga keluar darah.

"Kepala belakang sebelah kanan terbentur tembok, ini yang diduga menjadi penyebab korban meninggal. Namun kami masih menunggu hasil otopsi untuk mengetahui lebih jauh penyebab korban meninggal. Dibawa ke RS Bhayangkara Porong," katanya.

Diberitakan sebelumnya, Seorang santri di Mojokerto, AR (17) meninggal dunia, Selasa (20/8/2019). AR meninggal dunia diduga sebagain korban aksi penganiayaan seorang senior di pesantren tempatnya menimba ilmu.

Dari informasi yagn didapat, penganiayan dilakukan lantaran korban dan satu santri lainnya keluar ponpes tanpa izin. Dua orang santri senior kemudian mencari keberadaan korban dan satu santri temannya tersebut.

Setelah diketahui berada di kamar 5 yang ada di lantai II, kedua santri senior yang merupakan petugas keamanan langsung melakukan penganiayaan terhadap korban dan satu orang santri lainnya. Akibat penganiayaan tersebut, korban mengalami muntah darah.

Korban dibawa ke RSUD Prof Dr Soekandar, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto. Namun akhirnya korban dirujuk ke RSI Sakinah di Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto dan meninggal di rumah sakit Nahdhatul Ulama (NU) tersebut.

Teman korban, APGR (15) mengatakan, kedua santri senior tersebut membangunkannya kemudian melakukan penganiayaan. [beritajatim]

Komentar

Embed Widget
x