Find and Follow Us

Selasa, 17 September 2019 | 10:26 WIB

Cerita Panik Keluarga Penyerang Mapolsek Wonokromo

Selasa, 20 Agustus 2019 | 08:00 WIB
Cerita Panik Keluarga Penyerang Mapolsek Wonokromo
(Foto: Beritajatim)
facebook twitter

INILAHCOM, Sumenep - Penangkapan Imam Mustofa (IM), pelaku penyerangan Mapolsek Wonokromo, Surabaya, membuat keluarga di Desa Talaga, Kecamatan Ganding, Kabupaten Sumenep panik.

"Kami mendengar kabar kalau Imam sudah mati ditembak polisi, setelah penyerangan yang dilakukan Imam terhadap anggota Polsek Wonokromo," kata Kakak Sepupu IM, Hairi.

Kabar tersebut tentu saja mengejutkan keluarga besar IM di Ganding. Apalagi informasinya, jenazah akan dikirim ke Sumenep untuk dimakamkan di tanah kelahirannya.

"Kabar itu langsung membuat kami tidak bisa tidur semalaman. Apalagi saat ini orang tua Imam masih naik haji, belum pulang. Terus mau bilang apa kalau orang tua Imam datang nanti?" tanyanya.

Keluarga besar Imam baru merasa lega saat Kepala Desa setempat menyatakan bahwa kabar IM meninggal itu bohong. Yang benar IM masih diamankan aparat kepolisian pasca penyerangan terhadap anggota Polsek Wonokromo.

"Kata Pak Kalebun (kades: red), jangan percaya kabar yang beredar di medsos, karena itu belum tentu benar. Lebih baik langsung ngecek ke aparat berwenang," ucapnya.

IM merupakan warga Desa Talaga Kecamatan Ganding, Kabupaten Sumenep. Namun sudah hampir 9 tahun IM pergi meninggalkan kampung halamannya dan tinggal di Surabaya bersama istri dan tiga anaknya.

IM diamankan di Mapolsek Wonokromo pada Sabtu (17/8/2019) sore. Dia menyerang petugas di SPKT dengan senjata tajam. Modusnya, IM pura-pura melapor ke petugas piket.

Akibat serangan mendadak itu, petugas piket Polsek Wonokromo, Aiptu Agus Sumarsono, menderita luka bacok di kepala, tangan, dan pipi kirinya. Saat diamankan dan dilakukan penggeledahan, di tas IM ditemukan air softgun, ketapel, kelereng, makanan ringan, dan kertas print bergambar logo ISIS. [beritajatim]

Komentar

x