Find and Follow Us

Kamis, 24 Oktober 2019 | 05:31 WIB

Manokwari Memanas

Kapolda Turun Tangan, Massa Masih Blokade

Oleh : Muhammad Yusuf Agam | Senin, 19 Agustus 2019 | 11:50 WIB
Kapolda Turun Tangan, Massa Masih Blokade
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Kapolda Papua Barat dan Pangdam setempat turun tangan menemui massa yang melakukan unjuk rasa di sejumlah titik di Manokwari untuk memprotes aksi pengepungan terhadap mahasiswa Papua yang kuliah di Malang dan Surabaya.

Saat ini massa berkonsentrasi di satu titik yakni Matalo.

"Saat ini konsentrasi massa hanya ada di satu titik yaitu di Matalo yang dalam jumlah cukup besar kemudian di pertigaan Diesel, namun demikian negosiasi komunikasi masih terus dilakukan baik oleh Kapolda, Pangdam maupun Wagub saat ini beliau bertiga langsung menemui para pengunjuk rasa," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jakarta, Senin (19/8/2019).

Dedi mengatakan aksi pelemparan dan blokade jalan masih terjadi hingga siang ini. Dedi menyebut massa terprovokasi oleh salah satu diantara massa.

"Ada provokasi dari beberapa masyarakat melempar batu kepada beliau bertiga sementara pasukan mundur dulu untuk meredam situasi yang ada di masa agar lebih tenang dulu, nanti apabila sudah tenang beliau bertiga Kapolda Pangdam dan Wagub akan menemui masalah lagi dan tokoh-tokoh masyarakat juga diimbau untuk meredam kemudian juga untuk betul-betul sama-sama menjaga situasi Manokwari yang kondusif," ucap Dedi.

Dedi menambahkan massa menuntut aksi yang terjadi di Surabaya dan Malang yang menimpa mahasiswa Papua yang tengah berkuliah disana. Massa diduga terprovokasi dengan beredarnya video yang menurut mereka diskriminasi.

"Tuntutan mereka boleh dikatakan cukup terprovokasi dengan konten yang disebarkan oleh akun di media sosial terkait peristiwa di Surabaya dan peristiwa Surabaya sendiri sudah cukup kondusif dan sudah cukup direndam dengan baik tapi karena hal tersebut disebarkan oleh akun yang tidak bertanggung jawab membakar atau mengatasi mereka yang dianggap narasi tersebut adalah diskriminasi," ucap Dedi. [rok]

Komentar

x