Find and Follow Us

Selasa, 20 Agustus 2019 | 00:39 WIB

KPK Tetapkan I Nyoman Dhamantra Sebagai Tersangka

Oleh : Ivan Setyadhi | Jumat, 9 Agustus 2019 | 02:00 WIB
KPK Tetapkan I Nyoman Dhamantra Sebagai Tersangka
Ketua KPK Agus Rahardjo - (Foto: Inilahcom/Agus Priatna)

INILAHCOM, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Anggota Komisi VI DPR RI 2014-2019 dari Fraksi PDI Perjuangan, I Nyoman Dhamantra sebagai tersangka.


Kasusnya, dugaan suap terkait dengan pengurusan izin import bawang putih tahun 2019.

Ia ditetapkan sebagai tersangka bersama lima orang lainnya setelah tangkap tangan terhadap 12 orang yang dilakukan tim satgas KPK sejak Rabu (7/8/2019) kemarin.

"KPK meningkatkan status penanganan perkara ke penyidikan dengan 6 orang sebagai tersangka," kata Ketua KPK Agus Rahardjo di Gedung KPK Jakarta, Kamis (8/8/2019) malam.

Lima tersangka lainnya yakni sebagai penerima suap bersama I Nyoman yakniMirawati Basri, orang kepercayaan I Nyoman Dhamantra dan seorang pihak swasta Elviyanto.Sementara tiga tersangka lainnya yakniChandry Suanda alias Afung, pihak swasta;Doddy Wahyudi, pihak swasta dan Zulfikar, pihak swasta diduga sebagai pemberi suap.

Agus menuturkan, didugaAfung yang merupakan pemilik PT Cahaya Sakti Agro (PT CSA) yang bergerak di bidang pertanian memiliki kepentingan dalam mendapatkan kuota impor bawang putih dalam perkara ini. Afung dan Doddydiduga bekerjasama untuk mengurus izin impor bawang putih untuk tahun 2019.

Sebelumnya Doddy sudah menawarkan bantuan dan menyampaikan memiliki 'jalur lain' untuk mengurus Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) dari Kementrian Pertanian dan Surat Persetujuan Impor (SPI) dari Kementrian Perdagangan.Dikarenakan proses pengurusan yang tidak kunjung selesai, Doddy berusaha mencari kenalan yang bisa menghubungkannya dengan pihak-pihak yang dapat membantu pengurusan RIPH dan SPI tersebut.

"Doddy lalu berkenalan dengan Zulfikar yang memiliki kolega-kolega yang dianggap berpengaruh untuk pengurusan izin tersebut," tutur Agus.

Perkenalan dilakukan karena Zulfikar memiliki koneksi dengan Mirawati dan Elviyanto pihak swasta yang diketahui dekat dengan I Nyoman. Setelah itu Doddu, Zulfikar, Mirawati dan I Nyoman melakukan serangkaian pertemuan dalam rangka pembahasan pengurusan perizinan impor bawang putih dan kesepakatan fee.

Dari pertemuan-pertemuan tersebut muncul permintaan fee dari I Nyoman melalui Mirawati. Angka yang disepakati pada awalnya adalah Rp 3,6 miliar dan komitmen fee Rp1.700 -Rp. 1.800 dari setiap kilogram bawang putih yang diimpor.

Komitmen fee tersebut akan digunakan untuk mengurus perizinan kuota impor 20.000 ton bawang putih untuk beberapa perusahaan termasuk perusahaan yang dimiliki oleh Afung. Dikarenakan perusahaan-perusahaan yang membeli kuota dari Afung belum memberikan pembayaran, Afung tidak memiliki uang untuk membayar komitmen fee tersebut dan kemudian Afung meminta bantuan Zulfikar memberi pinjaman.

Diduga, Zulfikar akan mendapatkan bunga dari pinjaman yang diberikan, yaitu Rp100 juta per bulan dan nanti jika impor terealisasi, Zulfikae akan mendapatkan bagian Rp50 untuk setiap kilogram bawang putih tersebut.

Dari pinjaman Rp 3,6 miliar tersebut, telah direalisasi sebesar Rp 2.1 miliar. Setelah menyepakati metode penyerahan, pada tanggal 7 Agustus 2019 sekitar pukul 14.00 siang Zulfikar mentransfer Rp 2,1 miliar ke Doddy.

"Kemudian Doddy mentransfer Rp 2 miliar ke rekening kasir money changer milik I Nyoman. Uang sejumlah Rp 2 miliar tersebut direncanakan untuk digunakan mengurus SPI," terang Agus.

Sedangkan Rp 100 juta masih berada di rekening Doddy yang akan digunakan untuk operasional pengurusan izin. Saat ini semua rekening dalam kondisi diblokir oleh KPK.

"Diduga uang Rp 2 miliar yang ditransfer melalui rekening adalah uang untuk 'mengunci' kuota impor yang diurus. Dalam kasus ini teridentifikasi istilah 'Lock kuota'," tambah Agus. [hpy]

Komentar

x