Find and Follow Us

Senin, 23 September 2019 | 07:07 WIB

BNPT Sebut Medsos Metode Baru untuk Rekrut Teroris

Kamis, 1 Agustus 2019 | 17:22 WIB

Berita Terkait

BNPT Sebut Medsos Metode Baru untuk Rekrut Teroris
(Foto: ist)
facebook twitter

INILAHCOM, Sleman - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut adanya data terkait paham radikalisme metode baru, yakni melakukan rekrutmen atau pembaiatan lewat media sosial.

Perihal metode baru itu, BNPT mengajak aparatur desa dan kelurahan melek internet. Hal ini untuk menangkal persebaran paham radikalisme di pelosok desa melalui media sosial.

"Ada dinamika propaganda dan rekrutmen terorisme. Dari metode lama dengan rekrutmen tertutup atau pembaiatan langsung melalui keluarga, pertemanan, ketokohan, lembaga. Kini metode baru melalui dunia maya, rekrutmen terbuka dan pembaiatan lewat medsos," kata Kasubag TU Deputi Bidang Pencegahan, Perlindungan dan Deradikalisasi BNPT, Ahadi Wijayanto dalam sebuah diskusi di Sleman, Yogyakarta, Kamis (1/8/2019).

Ahadi menjelaskan, pemanfaatan teknologi informasi melaluidunia maya dilakukan kelompok radikalisme terorisme dengan pemberian informasi secara aktif tentang kegiatan mereka, baik via website maupun medsos.

"Mengapa teroris menggunakan dunia maya? Di antaranya karena mudah diakses, relatif sulit dikontrol, audien luas, bisa anonim dan kecepatan informasi," urainya.

Mudahnya akses informasi dewasa ini membuat kelompok radikalisme terorisme dengan leluasa menyebar dan melalukan perekrutan.

"Dunia maya ini bisa dijadikan media mereka untuk perang psikologis, propaganda, tempat diskusi, perekrutan dan jaringan," tandasnya.

BNPT berharap para aparatur desa melek internet dan bisa memahami indikator-indiaktor suatu konten berisi paham radikal terorisme. Sehingga dari aparat desa nanti bisa menyampaikan sosialisasi ke warganya untuk lebih bijak dalam pemanfaatan media sosial.

"Dari keluarga juga harus bijak memakai media sosial, awasi anggota keluarga dan filter konten-konten mengarah radikalisme terorisme. BNPT juga telah koordinasi dengan Kementerian Kominfo untuk menyisir konten-konten yang mengarah radikalisme terorisme," demikian Ahadi. [ton/adc]

Komentar

Embed Widget
x