Find and Follow Us

Kamis, 17 Oktober 2019 | 03:42 WIB

TPF Kasus Novel, Polri Buka Komunikasi dengan KPK

Oleh : M Yusuf Agam | Jumat, 19 Juli 2019 | 16:44 WIB
TPF Kasus Novel, Polri Buka Komunikasi dengan KPK
Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Asep Adi Saputra
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Polri didesak Presiden Joko Widodo untuk menuntaskan kasus penyiraman air keras terhadap penyidik KPK, Novel Baswedan dalam kuran waktu tiga bulan ke depan.

Menyikapi arahan ini, Polri memastikan akan terlebih dahulu melakukan evaluasi laporan dari tim pencari fakta (TPF).

"Pokoknya yang jelas, secara perorganisasian minggu depan akan ditetapkan keseluruhan dari tim teknis ini. Berawal dari evaluasi kembali apa yang dilakukan termasuk hal yang sudah direkomendasikan TPF," kata Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Asep Adi Saputra di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (19/7/2019).

Asep mengatakan evaluasi juga termasuk tak menutup kemungkinan tim teknis untuk menyidik kembali dimulai dari tempat kejadian perkara (TKP) Novel disiram air keras. Termasuk, pemeriksaan saksi-saksi yang sebelumnya sudah pernah diperiksa.

"Begini ya ada hal prinsip dari proses investigasi itu olah TKP. Jadi seberapa banyak olah TKP berdasarkan kebutuhan kita. Kalau masih dianggap perlu dan penting olah TKP dilakukan berkali-kali tidak maslaah. Karena olah TKP bukan masalah barang bukti saja tapi saksi. Mungkin pada masa lalu saksi belum bicara, saksi itu belum ditemukan. Jadi olah TKP terus berlanjut selama proses ini berlangsung," jelasnya.

Asep menambhakan tim teknis nantinya juga akan mendalami rekomendasi TPF yang menyebut kemungkinan penyiraman air keras kepada Novel disebabkan oleh penanganan 6 kasus korupsi di KPK.

Polri, lanjut dia, juga membuka diri untuk berkomunikasi dengan KPK untuk menampung saran yang diperlukan dalam pengungkapan kasus ini lebih lanjut.

"Ya pertama gini, tim pencari fakta (TPF) ini ada unsur dari KPK, tentunya komunikasinya akan terus berlanjut ya, kalau enam kasus yang high profile itu pasti akan didalami potensinya. Sekali lagi mengapa itu ada hipotesa demikian, mungkin dalam penangannya ada yang kecewa sakit hati, lalu dendam secara pribadi itu bisa aja terjadi," pungkasnya.

Komentar

x