Find and Follow Us

Senin, 19 Agustus 2019 | 05:24 WIB

Kasus Penyerangan Novel, Polri Sebut Probabilitas

Oleh : Muhammad Yusuf Agam | Kamis, 18 Juli 2019 | 18:23 WIB
Kasus Penyerangan Novel, Polri Sebut Probabilitas
Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Asep Adi Saputra

INILAHCOM, Jakarta - Novel Baswedan menyindir Tim Pencari Fakta (TPF) yang menyebut serangan air keras terhadapnya karena 'kewenangan berlebihan' yang digunakan Novel sebagai penyidik KPK.

"Sekali lagi bahwa mereka ini kan bekeja pada posisi proses penyelidikan dan penyidikan sudah dilakukan oleh kepolisian tentunya juga itu merupakan pijakan dasar bagi TPF melakukan pendalaman. Dengan batas waktu enam bulan ini ada beberapa rekomendasi disampaikan kepada polri yang tadi pendalaman terhadap saksi-saksi, yang harus kemudian ditindaklanjuti oleh kepolisian," kata Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Asep Adi Saputra di Mabes Polri, Jakarta, Kamis (18/7/2019).

"Dan juga kalau kita bicara motif kita terlebih dahulu mengungkapkan kasus secara keseluruhan tetapi probabilitas atau kemungkinan motif itu bisa saja kita susun dari awal. Sekali lagi prpbabilitas, kemungkinan. Itu akan mengantarkan kita kepada pendalaman, penyelidikan, penyidikan, berikutnya," sambung dia.

Asep mengatakan Polri tak menyebut faktor-faktor yang diungkap TPF adalah hasil akhir. Polri menggunakan istilah 'probabilitas' untuk kemudian ditindaklanjuti.

"Jadi sangat tidak mungkin misalnya kita sudah menentukan secara pasti tentang motif tanpa mengungkap secara keseluruhan. Sekali lagi probabilitas otu mengantar penyidik kita untik terus menjalani peristiwa itu," tutur Asep.

Tim Pencari Fakta (TPF) kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan menyebut ada 6 kasus yang tengah ditangani Novel Baswedan di KPK yang diduga menjadi latar belakang adanya teror terhadap penyidik senior di KPK itu.

"Jadi sebenarnya kan tidak terbatas hanya pada 6 kasus ini ya, karena kerja kami juga terbatas oleh waktu, maka kami baru menemukan ada 6 perkara ini yang merupakan kasus sempat ditangani Novel dan berpotensi dendam," kata anggota Rabu (17/7).

Nurkholis juga memprediksi bahwa pelaku utama yang merasa dendam terhadap Novel Baswedan karena menggunakan wewenangnya berlebihan sebagai penyidik senior KPK, melakukan aksinya menyiram air keras dengan cara menyuruh orang lain.

"Rata-rata kasus yang ditangani KPK ini berkaitan dengan high profile. Mereka (pelaku) tidak akan melakukannya sendiri (menyiram air keras), tetapi menyuruh orang lain untuk melakukan penyiraman," jelasnya. [ton]

Komentar

x