Find and Follow Us

Minggu, 8 Desember 2019 | 03:38 WIB

Musim Kemarau, Waspadai Kekeringan Hidrologis

Senin, 8 Juli 2019 | 12:55 WIB
Musim Kemarau, Waspadai Kekeringan Hidrologis
(Foto: beritajatim)
facebook twitter

INILAHCOM, Malang - Fenomena kekeringan hidrologis patut diwaspadai saat memasuki musim kemarau. Fenomena ini biasanya menyebabkan air sumur mulai menurun debit airnya.

Analis Bencana BPBD Kota Malang, Mahfuzi mengatakan, udara yang kering, prosentase kelembaban rendah dan tiupan angin yang kencang akan menambah laju evaporasi atau penguapan. Itulah mengapa kekeringan ditandai turunnya volume sumber air maupun tampungannya seperti sungai, danau atau kolam.

"Kekeringan merupakan salah satu jenis bencana alam yang terjadi secara perlahan, berlangsung lama sampai musim hujan tiba, berdampak sangat luas dan bersifat lintas sektoral seperti ekonomi, sosial, kesehatan, pendidikan dan lainnya," kata Mahfuzi, Senin (8/7/19).

Mahfuzi menerangkan, dalam ilmu hidrologi dikenal dua macam kekeringan, yakni kekeringan meteorologis dan kekeringan hidrologis. Jika hujan jarang turun, radiasi matahari meningkat disertai suhu udara meningkat maka terjadi kekeringan meterologi. Akibatnya kelembaban tanah menurun, kering dan retak-retak.

Dia menyarankan warga lebih berhemat air. Sebab, hemat dalam pemakaian air dapat mengurangi dampak dari kekeringan. Namun jika kekeringan meterologi berlanjut lebih lama, maka hilangnya air dari tanah akan merembet pada kekeringan hidrologis yang umum dicirikan dengan menurunnya elevasi muka air di kolam, danau, sungai bahkan air tanah (groundwater).

"Simpelnya gini, jika sumur di rumah kita turun airnya (saat kemarau) maka terjadi kekeringan hidrologis," papar Mahfuzi.

Mahfuzi menyebut berdasarkan perkiraan BMKG Karangploso puncak musim kemarau Kota Malang berlangsung pada Agustus. Disaat itulah hari tanpa hujan atau HTH semakin meningkat. Ini berarti masyarakat perlu perhatian ekstra untuk mewaspadai dampak puncak kemarau.

"Kekeringan tidak dapat dihilangkan namun bisa diturunkan besarannya. Dalam skala global, perlu pemeliharaan konservasi lahan dan air. Bisa pula (melakukan) pembatasan pengambilan air tanah yang berlebihan," ujar Mahfuzi.

Adanya perubahan iklim yang kian masif di seluruh dunia turut pula berkontribusi terhadap munculnya bencana, termasuk bencana kekeringan. Menurutnya, air tanah perlu dipertahankan tinggi muka airnya. Caranya dengan menginjeksi lewat biopori atau sumur resapan, agar saat hujan air bisa mengisi celah pori air tanah.

"Air adalah kebutuhan dasar yang sangat penting bagi kehidupan manusia maka perlu dimulai dengan tindakan-tindakan pelestarian air maupun optimalisasi manajemen air yang baik. Dari tingkat keluarga bisa dengan gerakan hemat air. Gerakan penghijauan atau menjaga daerah tangkapan air juga sangat membantu menghindari bencana kekeringan," tandasnya. [beritajatim]

Komentar

x