Find and Follow Us

Rabu, 17 Juli 2019 | 10:34 WIB

Masa Penahanan Pengancam Jokowi Diperpanjang

Oleh : Happy Karundeng | Senin, 24 Juni 2019 | 21:30 WIB
Masa Penahanan Pengancam Jokowi Diperpanjang
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono - (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono mengatakan massa penahanan tersangka pengancam penggal kepala Presiden Joko Widodo, Hermawan Susanto sudah diperpanjang 40 hari ke depan.

"Diperpanjang selama 40 hari sesuai KUHAP," katanya di Mapolda Metro Jaya, Senin (24/6/2019).

Sebelumnya, pengacara Hermawan, Sugiyarto sempat datang ke Markas Polda Metro Jaya bersama dengan Anita Agustin, kekasih Hermawan yang hendak melangsungkan pernikahan namun terkendala karena Hermawan terlilit kasus. Kedatangannya pun ternyata berharap agar polisi mengabulkan permintaan izin menikahnya.

Anita menyebut dia dan Hermawan harusnya menikah pada Senin, 10 Juni 2019 lalu. Dia mengaku tak masalah bila harus melangsungkan pernikahan di ruang tahanan (rutan) Direktorat Tahanan dan Barang Bukti (Dit Tahti), tempat HS mendekam saat ini.

"Kan kalau dalam Islam ada enam hari, biasa bulan syawal. Ada juga anjuran menikah di bulan syawal. Jadi, saya minta menikahnya di bulan syawal saja. Sudah lama persiapan nikahnya. Waktu itu minta tanggal 10, cuma kan ya kalau enggak bisa ya segera mungkin sebelum 30 Juni 2019," katanya.

"Ya kalau saya mah enggak masalah nikah dimana saja. Yang penting sah dimata agama, sah dimata Allah. Saya berharap bisa cepat masalahnya selesai. Saya serahin sama Allah dan pengacara," katanya lagi.

Sebelumnya, polisi menetapkan Hermawan Susanto sebagai tersangka menyusul aksi pengancaman terhadap Jokowi. Ancaman pemenggalan kepala Jokowi itu disampaikan Hermawan saat ikut berdemonstrasi di kantor Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), Jumat, 10 Mei 2019.

Dalam kasus ini, polisi akhirya menangkap pemuda itu saat bersembunyi di rumah kerabatnya di kawasan Parung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Minggu, 12 Mei 2019.

Atas perbuatannya itu, Hermawan dijerat Pasal 104 KUHP dan atau Pasal 110 KUHP, Pasal 336 dan Pasal 27 Ayat 4 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik karena yang bersangkutan diduga melakukan perbuatan dugaan makar dengan maksud membunuh dan melakukan pengancaman terhadap presiden.

Komentar

Embed Widget
x