Find and Follow Us

Selasa, 23 Juli 2019 | 21:41 WIB

KPK Masih Rahasiakan Daftar Saksi Kasus Waskita

Oleh : Ivan Setyadhi | Jumat, 21 Juni 2019 | 10:59 WIB
KPK Masih Rahasiakan Daftar Saksi Kasus Waskita
Juru Bicara KPK Febri Diansyah - (Foto: Inilahcom/Agus Priatna)

INILAHCOM, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mengusut kasus dugaan korupsi 14 proyek yang digarap PT Waskita Karya.

Dalam mengusut kasus itu, lembaga antirasuah memastikan bakal memeriksa jajaran direksi perusahaan plat merah tersebut maupun saksi-saksi lainnya.

"Pasti karena masih ada saksi yang masih harus diperiksa sebelum penyidikan ini selesai dan dilakukan pelimpahan," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah, Jumat (21/6/2019).

Meski demikian, Febri mengaku belum mengetahui secara pasti pihak-pihak yang bakal diperiksa untuk mengklarifikasi ihwal rasuah di perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi tersebut.

"Tapi siapa yang akan diperiksa misalnya dari BUMN mana, atau pihak swasta yang mana, atau pejabat yang mana itu tentu baru nanti kami informasikan," ujar Febri.

Kemarin, penyidik memeriksa Manager Pengelolaan Peralatan PT Waskita Beton Precast, Imam Bukori. Imam diperiksa untuk melengkapi berkas penyidikan dengan tersangka mantan Kepala Divisi II PT Waskita Karya, Fathor Rachman.

"Penyidik mendalami keterangan saksi terkait pelaksanaan proyek riil oleh subkontraktor fiktif pada proyek yang dikerjakan PT Waskita Karya," kata Febri.

Dalam perkembangan penyidikan, KPK menduga kasus korupsi 14 proyek yang digarap PT Waskita Karya merugikan keuangan negara lebih dari Rp 186 miliar seperti yang ditaksir sejauh ini.

Untuk memastikan nilai kerugian keuangan negara dari kasus ini, lembaga yang dipimpin Agus Rahardjo cs ini masih berkoordinasi dengan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

"Koordinasi yang lebih intens dilakukan dengan BPK agar temuan-temuan dugaan kerugian keuangan negara ini bisa dipastikan secara lebih rinci. Jadi bukan tidak mungkin nanti setelah proses ini maka ada temuan temuan baru sehingga dugaan kerugian keuangan negaranya bisa lebih besar dari Rp 186 miliar tersebut," ungkap Febri.

Dalam kasus ini, Fathor dan mantan Kabag Keuangan dan Risiko Divisi II PT Waskita Karya Yuly Ariandi Siregar diduga menunjuk sejumlah perusahaan subkontraktor untuk melakukan pekerjaan fiktif pada 14 proyek yang dikerjakan oleh PT Waskita Karya. Proyek-proyek tersebut tersebar di Sumatera Utara, Banten, Jakarta, Jawa Barat, Bali, Kalimantan Timur, hingga Papua.

Proyek-proyek tersebut sebenarnya telah dikerjakan oleh perusahaan lainnya, namun tetap dibuat seolah-olah akan dikerjakan oleh empat perusahaan yang teridentifikasi sampai saat ini. Diduga empat perusahaan tersebut tidak melakukan pekerjaan sebagaimana yang tertuang dalam kontrak.

Atas subkontrak pekerjaan fiktif ini, PT Waskita Karya selanjutnya melakukan pembayaran kepada perusahaan subkontraktor tersebut. Setelah menerima pembayaran, perusahaan-perusahaan subkontraktor itu menyerahkan kembali uang pembayaran dari PT Waskita Karya tersebut kepada sejumlah pihak, termasuk yang diduga digunakan untuk kepentingan pribadi Fathor dan Ariandi.

Atas tindak pidana ini, keuangan negara ditaksir menderita kerugian hingga Rp 186 miliar. Perhitungan tersebut merupakan jumlah pembayaran dari PT Waskita Karya kepada perusahaan-perusahaan subkontraktor pekerjaan fiktif tersebut. [rok]

Komentar

x