Find and Follow Us

Sabtu, 20 Juli 2019 | 05:10 WIB

Membaca Isyarat Mega Kongres PDI-P Dipercepat

Oleh : Latihono Sujantyo | Rabu, 19 Juni 2019 | 20:25 WIB
Membaca Isyarat Mega Kongres PDI-P Dipercepat
Megawati Soekarnoputri dan Puan Maharani - (Foto: istimewa)

Ada apa dengan permintaan Megawati Soekarnoputri agar Kongres V PDI Perjuangan (PDI-P) dipercepat, dari semula tahun 2020 menjadi 8-10 Agustus 2019? Sekjen PDI-P Hasto Kristiyanto menjawab, partainya ingin menyesuaikan agenda pemerintah, mulai dari pelantikan anggota DPR dan MPR, pelantikan Presiden dan Wakil Presiden sampai pembentukan kabinet baru.

Dengan cara itu, konsolidasi partai sudah sempurna saat agenda-agenda pemerintah mulai dijalankan pada akhir 2019. "Jadi, keputusan mempercepat (Konges) sangat strategis dan sebagai implementasi jatidiri sebagai partai pelopor," tambah Hasto.

Masuk akal. Namun, sebagian kalangan membaca lain dari permintaan Megawati itu. Permintaan Megawati itu, menurut mereka, sebagai sinyal ia akan mundur sebagai Ketua Umum PDI-P dan dia sudah menyiapkan penggantinya.

Benarkah demikian? Entahlah. Politisi PDI-P Erwin Moeslimin Singajuru menilai, Megawati selama ini dikenal sangat demokratis, dan membiarkan pengambilan keputusan penting keluar dari peserta kongres.

"Beliau bukan sekadar anak biologis Bung Karno, tapi juga anak ideologis Bung Karno, sangat visioner dan pemikirannya jauh ke depan," katanya.

"Saya kira momentum Kongres dipercepat ini, Ibu Ketum Megawati akan menentukan kapan beliau masih di depan, di samping dan kapan beliau akan Tut Wuri Handayani. Karena saya yakin beliau sangat visioner untuk melihat fenomena politik ke depan. Harapan inilah sesungguhnya yang ditunggu saat Kongres nanti," tutur Erwin.

Menurut Erwin, tidak elok jika ada yang berpendapat seolah-olah Kongres nanti sudah pasti tinggal ketok palu saja. "Itu sama saja mengatakan bahwa Ibu Ketum Megawati seperti tak berpikiri untuk masa depan tentang regenerasi," ujarnya.

Sejauh ini PDI-P di bawah kepemimpinan Megawati berhasil melahirkan kader dengan kualifikasi jempolan. Misalnya, Puan Maharani dan Prananda Prabowo, tidak saja keturunan biologis, tetapi juga ideologis Bung Karno, yang selama ini menjadi roh kejuangan PDI-P. Keduanya anak kandung Megawati, dan cucu Presiden pertama RI Soekarno.

Jika diamati, Puan memang yang paling dipersiapkan sebagai pengganti Megawati. Sejak remaja ia sudah digembleng pahitnya dunia politik. Pada usia 20 tahun, ia bersama ayahnya, Taufiq Kiemas, menyaksikan dengan mata kepala sendiri peristiwa Kongres Luar Biasa PDI di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya tahun 1993 yang menentukan bagi ibunya, Megawati. Ia juga sering diajak keliling oleh ibunya dalam konsolidasi politik di tengah tatapan keras rezim Orde Baru saat itu.

Perempuan kelahiran September 1973 ini terlibat dalam serangkain dinamika politik, sejak partai bernama PDI hingga kini menjadi PDI-P. Ia pernah menjadi "komandan" Pemenangan Pemilu PDI-P pada Pemilu 2014, sekaligus memimpin Tim Pemenangan Pasangan Jokowi-Jusuf Kalla pada Pilpres 2014. Kini, dia Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan

Benarkah Megawati menyiapkan Puan untuk menggantikannya pada Kongres V PDI-P 8-10 Agustus 2019? Entahlah. Yang jelas, sejak Kongres tahun 1999 ia selalu terpilih menjadi Ketua Umum PDI-P.

Dalam pidatonya pada 15 November 2018, Megawati menyatakan keinginannya untuk pensiun karena usianya sudah lebih 71 tahun.

"Sekian lama tidak diganti-ganti, padahal saya berharap diganti. Tapi hari ini pun saya ditambahi tugas pembinaan ideologi Pancasila (BPIP-Red)," kata Megawati. [lat]

Komentar

x