Find and Follow Us

Rabu, 17 Juli 2019 | 02:28 WIB

Polri Patroli Siber Group WA yang Kerap Sebar Hoax

Rabu, 19 Juni 2019 | 20:50 WIB
Polri Patroli Siber Group WA yang Kerap Sebar Hoax
Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo - (inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Polri mengatakan akan menggalakkan patroli Siber mengingat maraknya penyebaran hoax di media sosial. Salah satunya dengan melakukan patroli Siber pada WhatsApp Group (WAG).

"Kegiatan patroli siber itu ada dua hal yang dilakukan, pertama adalah pencegahan atau mitigasi terhadap akun-akun yang menyebarkan konten-konten hoax, kemudian ujaran kebencian, kemudian provokatif, dan berbau SARA," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (19/6/2019).

Dedi mengatakan patroli Siber di WAG juga tak bisa dilakukan sembarang. Polisi akan memiliki dalil yang kuat untuk melakukan penyadapan terhadap akun-akun WAG yang disinyalir menyebarkan berita-berita bohong.

"Ketika upaya-upaya mitigasi, pencegahan secara maksimal sudah dilakukan, dan akun-akun yang sudah dipantau itu terus melakukan semburan-semburan, berita-berita, atau konten-konten hoax maka dilakukan penegakan hukum. Dalam penegakan hukum tentunya penyidik akan menggali dari alat bukti yang diduga digunakan oleh pelaku. Sebagian besar pelaku ini menyebarkan berita hoax itu dengan menggunakan media sosial dulu, Baik Facebook, Twitter, maupun media sosial lainnya," ucapnya.

Dedi menambahkan bahwa penelusuran terhadap WAG tidaklah dilakukan terhadap semuanya. Melainkan, terhadap akun-akun WAG yang menyebarkan berita bohong atau sudah terbukti menyebarkan berita bohong.

"Dari WA-WA grup itu dilihat juga, didalami juga, dianalisa juga, dari WA-WA grup ini siapa yang biasa menyebarkan (hoax dan ujaran kebencian-red). Bisa dimintai keterangan dia sebagai saksi maupun juga dia kalau misalkan menyebarkan secara berulang dan jumlahnya cukup signifikan sampai ratusan bahkan ribuan bisa diduga yang bersangkutan juga ikut sebagai buzzer. Di situ yang dilihat itu adalah penyebarannya ketika barang bukti handphone tersangka yang awalnya itu didalami penyidik," ujar Dedi.

"Jadi nggak ada kita melaksanakan kegiatan patroli WA. Kalau kita melaksanakan patroli WA, nggak mungkin juga. Nggak mungkin juga kita cukup tenaga, cukup teknologi untuk memantau seluruh WA yang dimiliki oleh hampir 150 juta manusia Indonesia yang menggunakan alat komunikasi berupa handphone. Itu 150 juta (orang). Tapi pengguna handphone aktif sekarang ini sudah 330 juta manusia di Indonesia. Artinya satu orang itu lebih dari menggunakan 1 atau 2 handphone. Itu impossible untuk kkta lakukan," sambung dia. [adc]

Komentar

Embed Widget
x