Find and Follow Us

Sabtu, 24 Agustus 2019 | 12:36 WIB

Ini Penjelasan BMKG Soal Gempa Selatan Cilacap

Oleh : Happy Karundeng | Minggu, 9 Juni 2019 | 23:04 WIB
Ini Penjelasan BMKG Soal Gempa Selatan Cilacap
Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Daryono - (Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Daryono mengatakan dalam rentang waktu 15 menit terjadi dua kali gempa tektonik di Samudra Hindia selatan Cilacap dan selatan Bali. Kedua gempa tidak berpotensi tsunami.

Gempa pertama terjadi pukul 16.32 WIB, Minggu (9/6/2019) di Samudra Hindia selatan Cilacap. Hasil analisis BMKG menunjukkan informasi awal gempa ini berkekuatan M 5,7.

Kekuatan gempa selanjutnya dimutakhirkan menjadi M 5,5. Episenter terletak pada koordinat 8,68 LS dan 108,82 BT tepatnya di laut pada jarak 107 km arah selatan Kota Cilacap, pada kedalaman 64 km.

"Dengan memperhatikan lokasi episenter dan hiposenternya, tampak gempa ini merupakan gempa menengah akibat deformasi batuan pada Lempeng Indo-Australia yang tersubduksi ke bawah Lempang Eurasia di selatan Cilacap. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa ini dibangkitkan penyesaran naik (thrust fault)," kata Daryono dalam keterangan tertulis.

Guncangan gempa ini dirasakan di Pangandaran, Cilacap, Ciamis, Kebumen dalam skala intensitas III MMI dan Bandung dalam skala intensitas II MMI.

"Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan namun demikian gempa ini membuat banyak warga panik dan berlarian ke luar rumah. Patut disyukuri bahwa hasil pemodelan menunjukkan gempa ini tidak berpotensi tsunami," sambungnya.

Ia kemudian menjelaskan wilayah selatan Cilacap dan Pangandaran merupakan kawasan seismik aktif yang memiliki potensi gempa kuat. Dari data catatan yang dimiliki diketahui belum lama ini juga terjadi gempa signifikan di Cilacap yaitu pada 18 Mei 2019 dengan kekuatan M 5,6. Gempa ini mengguncang Pangandaran, Kebumen, Tasikmalaya, Cilacap, Banyumas, Karangkates, Blitar, Tulungagung hingga Kediri dalam skala intensitas II-III MMI. Guncangan gempa menyebabkan banyak warga panik dan berlarian keluar rumah.

Catatan katalog BMKG sejak tahun 1940 menunjukkan di zona ini sudah terjadi gempa kuat sebanyak 6 kali, yaitu pada 21 Maret 1940 (M 6,3), 7 September 1974 (M 6, 5). Kemudian 24 Juli 1979 (M 6,9), Tsunami merusak 17 Juli 2006 (M 7,7), 3 Maret 2011 (M 6,7), dan 13 Juni 2013 (M 6,7).

"Dengan memperhatikan tingginya potensi gempa di wilayah ini maka penting untuk terus menggalakkan upaya mitigasi gempa bumi dan tsunami," ujar Daryono.

Setelah gempa Cilacap hari ini, Samudra Hindia selatan Bali juga diguncang gempa tektonik berkekuatan M 5,1. Episenter terletak pada koordinat 11,75 LS dan 115,64 BT tepatnya dilaut pada jarak 344 km arah selatan Denpasar dengan kedalaman 10 km.

"Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa ini dipicu penyesaran dengan pergerakan turun (normal fault) sementara pemodelan menunjukkan tidak berpotensi tsunami," terang Daryono.

Daryono mengatakan, gempa di selatan Bali ini berpusat di Zona Outer Rise bila dilihat dari lokasi episenter dan hiposeternya.

"Peristiwa gempa ini memberi petunjuk kepada kita akan aktifnya zona sumber gempa di luar zona subduksi selatan Bali sebagaimana Zona Outer Rise selatan Sumbawa," kata dia.

Zona Outer Rise Sumbawa dijelaskan Daryono pernah memicu gempa berkekuatan M 8,3 dan membangkitkan tsunami setinggi 8 meter pada 19 Agustus 1977 hingga menelan korban jiwa sebanyak 198 orang tewas dan hilang di pantai selatan Sumbawa.

"Hingga saat malam ini hasil monitoring BMKG terhadap aktivitas gempa selatan Cilacap dan selatan Bali menunjukkan belum ada aktivitas gempa susulan (aftershock). Kepada masyarakat dihimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya," tutur Daryono. [hpy]

Komentar

x