Find and Follow Us

Senin, 16 September 2019 | 16:45 WIB

Bareskrim Tangkap Penyebar Hoaks Terkait Kapolri

Jumat, 31 Mei 2019 | 12:54 WIB
Bareskrim Tangkap Penyebar Hoaks Terkait Kapolri
(Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri menangkap FA (20), pengedit sekaligus penyebar berita bohong atau hoaks terkait pernyataan Kapolri Jenderal Tito Karnavian yang diduga sengaja 'dipelintir'.

Pernyataan yang dimaksud yakni saat Tito tengah berdialog dengan anggotanya terkait pengamanan. Tito dalam video tersebut ditemani oleh Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto menanyakan kepada anggota Brimob tersebut jika ada perusuh yang membawa parang atau hendak membunuh masyarakat apakah diskresi kepolisian dibolehkan untuk menembak perusuh tersebut.

"Dalam video aslinya tersebut, Kapolri menanyakan kepada anggota Brimob, 'Saya mau tanya, kalau di lapangan tiba-tiba ada orang bawa parang mau membunuh masyarakat, boleh nggak ditembak?', dijawab (oleh anggota) 'Siap, boleh Jenderal'" jelas Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo dalam keterangan tertulisnya, Jumat (31/5/2019).

FA (20) ditangkap di rumahnya, Jalan Srengseng Sawah Balong, RT 02/RW 04, Kembangan, Kelurahan Srengseng, Jakarta Barat pada Selasa (28/5).

Dedi mengatakan FA diduga dengan sengaja mengedit ucapan Tito dengan narasi, "Masyarakat boleh nggak ditembak?" FA lalu memposting video hasil editannya ke akun Facebook dengan disertai caption, "Maksudnya apa ya masyarakat boleh di tembak??"

"Dari hasil interogasi sementara, pelaku mengaku telah melakukan penyebaran informasi bohong tersebut melalui akun Facebooknya atas inisiatif sendiri, yang kemudian menyebar luas di media sosial," terang Dedi.

Soal motif, Dedi menyebut FA tidak suka dengan pemerintahan era Jokowi. FA juga diduga terprovokasi oleh ceramah-ceramah dari Habib Rizieq Shihab lewat media sosial YouTube.

"Tersangka mengaku termotivasi untuk melakukan perbuatan tersebut karena tersangka sering mendengar dan menonton ceramah HRS (Habib Rizieq Syihab) melalui media sosial Youtube, sehingga tersangka tidak suka dengan pemerintahan sekarang ini," ucap Dedi.

Usai menangkap FA, polisi menangkap AH, sehari setelahnya atau tanggal 29 Mei 2019. AH diduga sebagai penyebar editan dari narasi yang dibuat FA.

"Diduga menyebarkan informasi yang menimbulkan kebencian dan permusuhan individu atau kelompok, berdasarkan diskriminasi ras dan etnis serta penyebaran berita bohong, yang dapat menimbulkan keonaran dikalangan rakyat melalui Fecebook," ucap Dedi.

Polisi menyita barang bukti berupa ponsel dan sim card dari tangan keduanya. Mereka dijerat dengan Pasal 51 juncto Pasal 35 ayat (1) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE; dan/atau Pasal 45 ayat (2) juncto Pasal 28 ayat (2); dan/atau 14 ayat (1) dan (2); dan/atau Pasal 15 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana. [rok]

Komentar

x