Find and Follow Us

Rabu, 26 Juni 2019 | 08:02 WIB

Ratna Pertanyakan Pembuktikan Dakwaan Keonaran

Oleh : Muhammad Yusuf Agam | Kamis, 25 April 2019 | 22:42 WIB
Ratna Pertanyakan Pembuktikan Dakwaan Keonaran
Terdakwa hoax penganiayaan Ratna Sarumpaet - (Foto: Inilahcom/Eusebio CM)

INILAHCOM, Jakarta - Terdakwa hoax penganiayaan Ratna Sarumpaet mempertanyakan kesaksian ahli-ahli yang dihadirkan oleh jaksa. Ratna pun mempertanyakan cara membuktikan keonaran dari suatu kebohongan.

"Keonarannya nggak ada kok (disebut) relevan sih, bagaimana membuktikan ada keonaran?" ujar Ratna Sarumpaet di PN Jaksel, Kamis (25/4/2019).

Ratna menegaskan bahwa dakwaan keonaran yang disebut jaksa adalah salah. Ratna ingin membuktikan mana ada keonaran akibat kebohongan yang ia buat.

"Iya apa menurut kamu keonaran di mana, di mana yang gaduh siapa yang gaduh. Kalau di Twitter memang selalu gaduh kan, mana Twitter yang nggak pernah gaduh," ucapnya.

Ahli pidana Dr Metty Rahmawati Argo dalam persidangan menegaskan pasal soal penyebaran kebohongan yang menimbulkan keonaran pada Pasal 14 ayat 1 UU Nomor 1 Tahun 1946 masih relevan. Sebab, belum ada keputusan yang mencabut atau membatalkan UU Itu.

Dr Metty menjelaskan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 dikeluarkan saat masa pemerintahan Presiden Soekarno. Menurutnya, undang-undang tersebut dikeluarkan agar tidak ada keonaran yang diakibatkan demonstrasi, sebab saat itu pemerintahan baru terbentuk.

Ratna Sarumpaet didakwa membuat keonaran dengan menyebarkan kabar hoax penganiayaan. Ratna disebut sengaja membuat kegaduhan lewat cerita dan foto-foto wajah yang lebam dan bengkak yang diklaim akibat penganiayaan.

Ratna Sarumpaet didakwa dengan Pasal 14 ayat 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dan/atau Pasal 28 UU No 19 Tahun 2016 tentang ITE. [ton]

Komentar

x