Find and Follow Us

Rabu, 24 April 2019 | 14:17 WIB

Bawaslu Diharap Bisa Atasi Kasus Pemilu di LN

Oleh : Aris Danu | Senin, 15 April 2019 | 21:13 WIB
Bawaslu Diharap Bisa Atasi Kasus Pemilu di LN
Pengamat Politik Senior, Muhammad AS Hikam - (Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Pengamat Politik Senior, Muhammad AS Hikam menduga surat suara dicoblos di Malaysia dan WNI yang tak bisa menggunakan hak pilihnya di Australia, Belanda dan kekacauan pemungutan suara di Jepang menjadi indikasi bahwa manajemen KPU amburadul.

"Ini artinya yang paling bertanggungjawab adalah penyelenggara pemilu baik yang ada di pusat maupun petugas setempat, sebab tidak semua di Luar Negeri itu terjadi. Ada daerah-daerah yang sangat bagus," katanya.

Kekacauan manajemen penyelenggara Pemilu yang dimaksud AS Hikam adalah salah satunya formulir A5. Dia mencontohkan eks Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama yang dipersulit mencoblos di Osaka, Jepang.

"Ahok itu adalah representasi dari konfusion atau kegalauan, kebingungan menterjemahkan dari masalah itu. Beliau sudah 3 bulan sebelumnya sudah mendaftar bahwa akan pindah ke Osaka untuk memilihnya, nomornya aja beliau udah tahu, nomor 8 katanya kan, tapi begitu di sana diharuskan menunggu sampai terakhir," jelas dia.

Sementara itu, Direktur Ekskutif Indonesian Publik Institute Karyono Wibowo meminta persoalan Pemilu di luar negeri tidak dianggap sepele. Bawaslu diharap bisa mengungkap kasus yang terjadi di luar negeri, baik kasus dugaan surat suara dicoblos maupun persoalan WNI yang tak dapat menyalurkan hak politiknya.

"Kasus di Malaysia kita harus menunggu sikap resmi dari Bawaslu. Tak boleh memelintir bahwa hal itu dilakukan paslon tertentu. Dan saya kira juga KPU harus memastikan setiap warga negara yang memiliki hak suara harus dijamin," ujarnya.

Adapun Pengamat Intelijen dan Keamanan, Stanislaus Riyanta mengatakan ada kejanggalan dalam kasus pencoblosan surat suara di Malaysia tersebut sebab yang mencoblos surat suara di Malaysia diminta untuk meninggalkan lokasi, sebagaimana video peristiwa itu, beredar.

"Kenapa di Malaysia? Untuk menarik dunia internasional. Ini suatu pengkondisian. Peristiwa di Malaysia adalah pengkondisian," sebut dia.

Menurut Stanislaus, Pemilu harus terselenggara sukses. Dia lantas meminta TNI-Polri menjaga potensi ancaman seiring meningkatnya kesadaran politik dan partisipasi masyarakat pada pesta demokrasi lima tahunan ini.

"TNI-Polri harus tegas karena TNI-Polri jadi garda terakhir kita, KPU juga, yang harus hati-hati basis massa," tandasnya. [adc]

Komentar

x