Find and Follow Us

Sabtu, 21 September 2019 | 06:38 WIB

KPK Dalami Mekanisme Sewa Kapal di Kasus Bowo

Oleh : Ivan Sethyadi | Senin, 15 April 2019 | 21:25 WIB
KPK Dalami Mekanisme Sewa Kapal di Kasus Bowo
Juru Bicara KPK Febri Diansyah - (inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tengah mendalami mekanisme kerjasama sewa menyewa kapal antara PT Pupuk Indonesia Logistik (PILOG) dengan PT.Humpuss Transportasi Kimia.

Hari ini, penyidik memeriksa dua orang saksi untuk Marketing Manager PT HTK Asty Winasti dalam kasus dugaan Suap pelaksanaan kerjasama pengangkutan di Bidang Pelayaran antara PT. PILOG dan PT Humpuss.

"Penyidik hari ini mendalami informasi mengenai mekanisme kerjasama sewa menyewa kapal antara PT PILOG dan Humpuss," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah kepada wartawan, Senin (15/4/2019).

Para saksi yang diperiksa adalah Direktur PT. Kopindo Cipta Sejahtera Bambang Tedjo Katjanto dan Staff Finance and Treasury PT. Humpuss Desi Artinesti.

Dalam kasus ini KPK menetapkan 3 orang sebagai tersangka. Selain Asty, ada Anggota DPR Komisi VI Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso serta Indung, anak buah Bowo di PT. Inersia, Indung.

Bowo diduga meminta fee kepada PT Humpuss atas biaya angkut yang diterima sejumlah USD2 per metric ton. Diduga, Bowo telah menerima tujuh kali hadiah atau suap dari PT Humpuss.

Bowo menerima suap karena membantu agar kapal-kapal milik PT Humpuss digunakan kembali oleh PT PILOG untuk mengangkut pendistribusian pupuk. Sebab, kerjasama antara PT HTK dan PT PILOG telah berhenti.

Total, uang suap dan gratifikasi yang diterima Bowo Sidik dari PT Humpuss dan lainnya mencapai Rp8 miliar. Uang tersebut dikumpulkan Bowo untuk melakukan serangan fajar di Pemilu 2019.

KPK sendiri telah menyita uang sebesar Rp8 miliar dalam 82 kardus dan dua boks. 82 kardus serta dua boks tersebut berisi uang pecahan Rp50 ribu dan Rp20 ribu dengan total Rp8 miliar yang sudah dibungkus dalam amplop. [adc]

Komentar

x