Find and Follow Us

Rabu, 17 Juli 2019 | 02:33 WIB

Menyoal Metodologi dan Independensi Lembaga Survei

Rabu, 27 Maret 2019 | 12:12 WIB
Menyoal Metodologi dan Independensi Lembaga Survei
Wakil Ketua DPR Fadli Zon - (Foto: Inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Sejumlah lembaga survei di Indonesia menempatkan kandidat petahana, Jokowi-Maruf akan memenangkan Pilpres 2019. Terbaru, Charta Politika merilis hasil survei bahwa pasangan nomor 01 itu diprediksi mendapatkan 53,6% dan 35,4% untuk kubu 02.

Namun, Wakil Ketua DPR Fadli Zon mengingatkan perlunya mendedah hasil survei, terutama terkait metodologi yang digunakan. Terlebih di era informasi saat ini.

"Metodologi ini sudah kuno, dengan begitu melimpah ruahnya informasi yang luar biasa, tidak ada lagi dominasi informasi," terang Fadli di Jakarta, Selasa (26/3/2019).

Politikus Partai Gerindra ini memaparkan sosial media kini bisa menjadi informasi alternatif yang luar biasa dengan kecepatannya. Fadli menyontohkan, ketika pemilihan Presiden Amerika Serikat 2016 silam. Kala itu, Donald Trump diprediksi kalah oleh hampir semua lembaga survei.

"Bahkan New York Times mengatakan Hillary Clinton menang 85%, Donald Trump hanya dikasih 15%, ternyata Donald Trump yang menang," sambungnya.

Situasi serupa juga terjadi ketika di Pilgub DKI Jakarta, sejumlah hasil survei menempatkan kandidat petahana sebagai pemenang. Namun saat pencoblosan, petahana justru tumbang.

Hal lain yang juga patut dikritisi ialah peran lembaga survei yang mestinya independen dan transparan, justru tak tergambarkan di Indonesia. Bahkan, Fadli menilai lembaga survei terkesan menjadi alat kampanye.

Menurutnya, lembaga survei dan lembaga konsunsultan politik dalah dua hal yang berbeda.

"Kalau lembaga survei berhimpit dengan konsultan politik maka akan ada conflict of interest , dia akan menjadikan survei itu sebagai alat propaganda, alat kampanye dari yang membayar dia sebagai konsultan politik," tandasnya. [rok]

Komentar

x