Find and Follow Us

Kamis, 19 September 2019 | 05:58 WIB

Edy Rahmayadi Lengser Karena Operasi Senyap

Senin, 25 Maret 2019 | 15:07 WIB
Edy Rahmayadi Lengser Karena Operasi Senyap
Edy Rahmayadi
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Pemeriksaan Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Joko Driyono oleh Satuan Tugas Antimafia Bola Polri, Senin (25/3/2019), mengingatkan publik akan Edy Rahmayadi, Ketua Umum PSSI yang digantikannya karena mengundurkan diri dalam Kongres Tahunan PSSI di Nusa Dua, Bali, 20 Januari 2019. Misteri di balik mundurnya Edy pun kembali membayang. Edy diyakini lengser akibat adanya operasi senyap yang digalang Komite Perubahan Sepakbola Nasional (KPSN).

Dalam program Mata Najwa di Trans 7 yang mengusung tema PSSI Bisa Apa III: Saatnya Revolusi!, Rabu (23/1/2019), mantan wartawan olahraga harian terkemuka nasional Yesayas Oktovianus menyebut KPSN memang berniat melengserkan Edy Rahmayadi.

Tiga hari menjelang Kongres Tahunan PSSI di Nusa Dua, Bali, Kamis (17/1/2019), voters atau para pemilik hak suara PSSI menggelar pertemuan rahasia di Hotel Royal Kuningan, Jakarta Selatan. Dalam pertemuan itu, digalang mosi tidak percaya terhadap Edy Rahmayadi yang beberapa hari menjelang kongres keukeuh menyatakan tak mau mundur. Mungkinkah yang menggerakan voters itu invisible hands (tangan-tangan tak kelihatan) yang jadi kepanjangan tangan KPSN?

Yesayas mengakui KPSN memang didirikan buat melengserkan Edy, bahkan ia menyebut nama Ketua KPSN Suhendra Hadikuntono. Sebab itu, Yesayas yang mengklaim sebagai pendiri dan sekaligus Ketua KPSN pertama yang hanya berumur sehari, memilih mundur dari tim KPSN.

Dihubungi wartawan, Jumat (22/1/2019) malam, Yesayas mengaku dirinya mundur dari tim KPSN karena tidak sanggup memenuhi target merevolusi PSSI yang otomatis melengserkan Edy Rahmayadi dari kursi Ketua Umum PSSI hanya dalam waktu satu bulan. "Target satu bulan itu terlalu berat dan tidak masuk akal," katanya.

Adapun mundurnya Edy Rahmayadi disebut Yesayas karena memang mantan Pangkostrad itu tidak nyaman lagi dengan situasi di internal PSSI menyusul penangkapan demi penangkapan terhadap tersangka perkara match fixing, bahkan muncul pula mosi tidak percaya yang digalang KPSN melalui voters jelang Kongres Tahunan PSSI di Nusa Dua, Bali. Itu seperti operasi intelijen yang membuat Edy tidak nyaman hingga ia pun mengundurkan diri.

Dihubungi terpisah, Senin (25/3/2019), Ketua KPSN Suhendra Hadikuntono menampik pernyataan Yesayas. Menurutnya, KPSN didirikan atas dasar keprihatinan yang mendalam atas prestasi sepakbola nasional yang tidak kunjung maju dan terus meredup di tingkat regional, apalagi dunia. Penyebab lain adalah maraknya oknum pengurus PSSI yang jadi tersangka perkara match fixing.

Terkait tujuan utama didirikannya KPSN, lanjut Suhendra, adalah memberantas match fixing dan melakukan perubahan total di tubuh PSSI agar situasi dan kinerja jadi lebih baik demi mengembalikan PSSI ke khittah-nya saat dilahirkan pada 19 April 1930 di Yogyakarta, yakni sebagai alat perjuangan dan pemersatu bangsa serta sarana menyejajarkan diri dengan bangsa-bangsa lain yang lebih maju melalui prestasi sepakbola nasional.

"Bahwa dalam perjuangan ke arah PSSI yang lebih baik itu ada pihak-pihak yang menjadi korban, misalnya Ketua Umum mundur atau Plt Ketua Umum menjadi tersangka, itu konsekuensi perjuangan. Revolusi kadang-kadang memang menelan anak kandungnya sendiri," kata Suhendra menanggapi isu balas dendam politik karena partai yang didukungnya kalah dalam Pilkada Sumatera Utara 2018.

Suhendra menegaskan, "Jika saya kalah di Sumut, lalu menang di PSSI, skor jadi 1-1 dong. Ingat ya, di PSSI ada 30-an juta massa mengambang dan tidak di bawah pemerintah, melainkan di bawah FIFA. Tadinya dalam kendali Gubernur Sumut dan Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi yang salah satu partai pengusungnya adalah Gerindra. Itu sudah saya netralkan dan kini mendukung Pak Jokowi. Olahraga yang paling banyak massanya memang sepakbola."
[rok]

Komentar

x