Find and Follow Us

Minggu, 26 Mei 2019 | 23:15 WIB

Gerindra Sayangkan Pernyataan KH Anwar Iskandar

Selasa, 19 Maret 2019 | 09:34 WIB
Gerindra Sayangkan Pernyataan KH Anwar Iskandar
(Foto: beritajatim)

INILAHCOM, Surabaya - Menanggapi video yang viral berisi pernyataan KH Anwar Iskandar di hadapan KH Maruf Amin dan puluhan Kiai lainnya, Sekretaris DPD Partai Gerindra Jawa Timur Anwar Sadad buka suara.

"Arah dari pernyataan itu dapat dibaca dengan jelas, beliau ingin mengatakan bahwa di belakang Paslon 02 ada kekuatan Islam (lain) yang berkonsolidasi dan sedang membangun kekuatan untuk menjadikan Islam mainstream dan para Ulama NU (yang diklaim berada di belakang Paslon 01) sebagai fosil di masa depan," ujar Sadad melalui jejaring pesan, Selasa (19/3/2019).

"Pernyataan ini amat provokatif. Bernuansa memecah-belah umat. Membuat garis batas antara kami dan kalian. Ini seperti membangun kembali tembok tribalisme yang telah dengan sekuat-tenaga dirobohkan di zaman Rasulullah SAW," tambahnya.

Menurut Sadad, dalam muqaddimah Qanun Asasi Hadratussyaikh Hasyim Asyari telah dibuka dengan ide tentang ijtima dan taaruf serta ittihad dan juga taaluf. "Qanun Asasi bagi warga NU adalah spirit perjuangan, sudah seharusnya dihayati dalam perilaku berjamiyah," ujarnya.

"Sebagai ulama, amat disayangkan KH Anwar Iskandar membingkai perbedaan pilihan dalam Pilpres sebagai pertempuran kelompok Ahlussunnah Waljamaah vis-a-vis Non-Ahlussunnah Waljamaah. Lalu berilusi bahwa kekalahan pihaknya dalam pilpres nanti akan berdampak pada kehancuran kekuatan Islam Ahlussunnah Waljamaah di bumi nusantara. Ini kan seperti menutup mata terhadap fakta banyak tokoh-tokoh NU, beberapa di antaranya bahkan adalah keturunan langsung para Pendiri NU, yang dengan tegas memihak Paslon 02," lanjut anggota DPRD Provinsi Jawa Timur ini.

Bagi Sadad, seharusnya akan jauh lebih bijak jika KH Anwar Iskandar membingkai perbedaan pilihan Pilpres sebagai perbedaan ijtihad politik. Sebagai ijtihad selalu ada ruang untuk berbeda.

"Ruang bagi perbedaan aspirasi politik bagi Warga NU diizinkan asalkan berjalan dalam suasana persaudaraan, tawadhu, dan saling menghormati sebagaimana tercantum dalam Sembilan Pedoman Politik Warga NU yang menjadi Keputusan Muktamar NU XXVIII di Krapyak Yogyakarta Tahun 1989," kata Sadar menjelaskan.

"Lebih naif lagi KH Anwar Iskandar menyatakan jika paslon 01 kalah maka tidak akan ada lagi tahlil dan zikir di Istana Negara. Ini a-historis. Memangnya sejak kapan tahlil dan zikir bergantung pada kekuasaan? Tahlil dipraktikkan oleh umat Islam di nusantara ini sejak Indonesia belum lahir," tegasnya.

Sadad mengungkapkan, zikir di Istana oleh para ulama pada dasarnya bukan tradisi yang lazim dipraktikkan oleh ulama salaf. Keterangan tentang hal itu dengan mudah dijumpai dalam kitab-kitab kuning yang dipelajari di pesantren. Politikus Partai Gerindra ini yakin Kiai Anwar mengerti hal tersebut.

Sadad menambahkan, perbedaan pilihan politik warga NU dalam pilpres tak bisa terelakkan lagi. Yang seharusnya dilakukan sebagai tim pemenangan, menurutnya, adalah memberikan pencerahan kepada umat, bukan provokasi umat.

"Politik adalah instrumen untuk merebut kekuasaan, dan kekuasaan sebagaimana termaktub dalam teks al-kutub al-murabarah (kitab-kitab yang autentik) musti diorientasikan untuk menjaga Agama (hirsat al-dn) dan mengelola kepentingan dunia (siysat al-duny). Mestinya kita sepakati untuk menjaga kualitas demokrasi sebagai hi-politics, bukan politik murahan yang dipenuhi omong kosong dan provokasi," pungkas Sadad. [beritajatim]

Komentar

x