Find and Follow Us

Minggu, 26 Mei 2019 | 21:34 WIB

Isu Kiamat, Ini Penjelasan Kapolres Ponorogo

Sabtu, 16 Maret 2019 | 01:23 WIB
Isu Kiamat, Ini Penjelasan Kapolres Ponorogo
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Ponorogo - Hasil penyelidikan Polres Ponorogo ke Pondok pesantren di Malang diperoleh keterangan bahwa saat ini warga Ponorogo yang mondok di sana total ada 61 jiwa.

Yang terbagi menjadi 21 KK. Mereka berangkat dalam dua tahap, yang pertama dipimpin oleh Katimun sebanyak 19 KK dan yang kedua dipimpin oleh Mohammad Said sebanyak 2 KK.

"Jadi totalnya itu ada 61 jiwa. Dan semuanya itu ada di pondok," kata Kapolres Ponorogo AKBP Radiant, Jumat (15/3/2019).

Dari keterangan diperoleh, Katimun menyangkal tentang pernyataan kiamat sudah dekat dan terjadi yang pertama di desanya. Klarifikasinya dia hanya menyampaikan pada jamaahnya tentang tanda-tanda akhir zaman.

"Salah satunya mencairnya es di kutub utara dan bencana tanah longsor maupun banjir," katanya.

Selain itu 61 warga yang ke Malang itu untuk mengikuti program mondok triwulanan yaitu rojab, ruah dan ramadan. Dan jual aset itu untuk bekal mereka selama mondok. Pertama itu Katimun yang ingin mengikuti program tersebut.

"Nah para jemaah ini yang berinisiatif untuk mengikuti Katimun ke pondok di Malang," pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya Polres Ponorogo terus menindak lanjuti kabar tentang 52 warga Desa Watu Bonang Kecamatan Badegan Kabupaten Ponorogo yang pergi dari desanya. Mereka dimungkinkan meninggalakan desa sejak sebulan yang lalu, hingga rombongan terakhir pada Sabtu (9/3/2019) lalu. Pergi ke salah satu pondok pesantren di Kecamatan Kesambon Kabupaten Malang.

Namun informasi dari Malang, warga Ponorogo yang ada di Pondok tersebut berjumlah 42 orang. Sedangkan kalau dari Ponorogo yang berangkat 52 orang.

Sejak kasus ini mencuat, pihaknya intens berkordinasi dengan Polres Batu. Informasi yang edar, banyak yang tidak benar. Dia mencontohkan ada bahasa kiamat, pedang, foto dan yang lainnya itu tidak benar. Memang ada foto yang terjual tetapi harganya juga masih wajar.

"Masyarakat itu tahunya dari kordinator di Desa Watu Bonang bernama Katimun. Bukan dari Pondok Pesantrennya yang di Malang," kata Radiant. [beritajatim]

Komentar

x