Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 26 Maret 2019 | 18:30 WIB

Termakan isu Kiamat, Warga Mojokerto Jual Harta

Jumat, 15 Maret 2019 | 23:12 WIB

Berita Terkait

Termakan isu Kiamat, Warga Mojokerto Jual Harta
(Foto: beritajatim)

INILAHCOM, Mojokerto - Sepasang suami istri (pasutri) di Kabupaten Mojokerto turut berangkat ke Pondok Pesantren (Ponpes) Miftahul Falahi Mubtadin (MFM) di Dusun Pulosari, Desa Sukosari, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang. Mereka menjual semua barang berharga.

Kepergian Khurotul Aini (23) dan Risky (25) warga Dusun Mojogeneng, Desa Mojogeneng, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto ini ke Malang karena isu kiamat. Keduanya berangkat pada, Kamis (7/3/2019) lalu dan dikabarkan mengikuti Jemaah Thoriqoh Muso.

Ninik Suwarni (69) mengatakan, sebelum berangkat ke Malang, anaknya menjual semua harta benda miliknya. "Anak saya dan istrinya menjual semua barang-barang berharga miliknya, mulai dari sepeda motor, salon, kipas dan hingga membuka celengan Rp3 juta," ungkapnya, Jumat (15/3/2019).

Masih kata Ninik, keduanya berpamitan ke keluarga ke Ponpes untuk melakukan puasa Rajab selama satu bulan. Selain itu, anaknya mengatakan jika kiamat sudah dekat sehingga mereka juga mengajak keluarga ikut mereka ke Malang.

"Kurang lebih mereka membawa uang Rp6 juta sampai Rp8 juta hasil dari penjualan barang-barang miliknya. Katanya mondok kok jual semua barang-barang, katanya untuk makan selama di sana. Saya dan keluarga dari pihak suami anak saya ke sana (Malang) untuk menjemput namun tidak mau," katanya.

Justru, anaknya mengajaknya untuk ikut mereka dengan alasan kiamat sudah dekat. Menurutnya, selain anak dan menantunya, ada juga warga Mojokerto yang turut berangkat ke Malang bersama mereka. Yakni sekitar delapan orang dari sejumlah daerah di Mojokerto.

"Mereka ada yang dari Dusun Jetis, Jatirejo dan juga ada yang dari Desa Gemekan, Kecamatan Sooko. Anak saya terlihat seperti biasa, kalau shalat jamaah juga di mushola di dekat rumah bersama para warga kok. Namun dalam satu minggu, ngaji di Gemekan, itu rutin. Tapi saya kurang tahu bersama siapa? dan alirannya apa?" tuturnya.

Sementara itu Zainul Arifin, kakak kandung Aini menambahkan, tidak ada tanda-tanda jika adik bersama suaminya akan berangkat ke Malang terkena isu kiamat. "Yang jelas keluarga sempat mencegah agar tidak berangkat," tegasnya. [beritajatim]

Komentar

Embed Widget
x