Find and Follow Us

Minggu, 26 Mei 2019 | 21:26 WIB

700 Hari Usai Penyerangan, Begini Kondisi Novel

Oleh : Ivan Setyadhi | Rabu, 13 Maret 2019 | 02:03 WIB
700 Hari Usai Penyerangan, Begini Kondisi Novel
(Foto: Inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Tujuh ratus (700) hari sudah berlalu sejak peristiwa penyiraman air keras terhadap Penyidik senior KPK Novel Baswedan terjadi pada 11 April 2017.

Selama hampir 2 tahun belum ada hasil dari penyidikan yang dilakukan. Kabar baiknya, kondisi kesehatan mata Novel berangsur membaik.

"Baru saja beliau (Novel) mengabarkan bahwa kondisi mata kiri beliau itu semakin membaik dan untuk mata kanan beliau yang kemarin sempat kurang baik hari ini dinyatakan sudah cukup stabil dan yang sebelumnya sempat turun matanya sekarang sudah mulai stabil dan kembali ke posisinya," kata Arif, kuasa hukum Novel di Gedung KPK Jakarta, Selasa (12/3/2019).

"Jadi mulai membaik mata kanan beliau. Dan karena alasan itu beliau tidak dapat bergabung bersama kita," tambah dia.

Adapun, dalam aksi 700 hari penyerangan Novel, Koalisi Masyarakat Sipil Anti Korupsi menyimpulkan penyerangan terhadap Novel adalah sebagai percobaan pembunuhan adalah pelanggaran HAM.

"Pertama, karena Novel menjalankan tugas sebagai Penyidik KPK dianggap sedang memperjuangkan pemenuhan hak-hak ekonomi sosial dan budaya," kata Saleh Al Ghifari.

Kedua, karena pengungkapan kasus Novel terbukti tidak mendapatkan penyelesaian hukum yang adil dan benar sebagaimana disebutkan dalam Pasal 1 Angka 6 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia. Novel Baswedan dalam hal ini kembali menjadi korban karena penundaan berlarut (undue delay) pengungkapan kasus yang sangat lama dari kepolisian.

Menurut Koalisi Masyarakat Sipil Anti Korupsi, penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan bukanlah teror yang pertama kali dialaminya. Terhitung sudah 5 kali ia mengaiami teror sebelumnya. Mulai dari ditabrak hingga ancaman bom.

Selain itu, terhadap pengawai KPK lainnya sudah terjadi pula 8 kali teror yang cukup serius. Mulai dari diculik hingga ancaman pembunuhan. Selain itu, berdasarkan data yang dirih's Transpararency International Indonesia pada 2017 terdapat 100 kasus ancaman teror bagi pelapor, saksi dan korban dalam kasus korupsi dari tahun 2004. [adc]

Komentar

x