Find and Follow Us

Kamis, 27 Juni 2019 | 10:05 WIB

Kasus Habib Bahar, Luka Korban Karena Duel?

Oleh : Ray Muhammad | Rabu, 6 Maret 2019 | 16:27 WIB
Kasus Habib Bahar, Luka Korban Karena Duel?
Habib Bahar bin Smith - (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Bandung - Tim kuasa hukum Habib Bahar bin Smith menolak dakwaan yang disampaikan pengadilan terhadap kasus dugaan penganiayaan anak yang diduga dilakukan kliennya.

Kuasa hukum Habib Bahar, Munarman, menyebut dakwaan jaksa tidak jelas. Dalam dakwaan jaksa tidak secara gamblang menjelaskan peran masing-masing terdakwa dalam kasus ini.

"Dakwaan jaksa ini kabur karena peran masing-masing terdakwa tidak rinci. Luka-luka korban juga ada yang karena duel, bukan aniaya oleh klien kami," ujar Munarman di Gedung Arsip Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (6/3/2019).

Ia juga menyebut, dalam dakwaan juga tidak dijelaskan secara rinci status para korban baik yang anak-anak atau dewasa.

"Dewasa dan anak adalah subjek hukum yang berbeda, jadi ini nggak jelas. Makanya, harus dinyatakan batal demi hukum atau tidak sah," serunya.

Sebagaimana diketahui, pada sidang perdana yang dijalani Habib Bahar pekan lalu, jaksa membacakan surat dakwaan yang menyebut bahwa terdakwa Habib Bahar diduga terlibat kasus penganiayaan dua remaja di Kabupaten Bogor.

Dalam dakwaannya, jaksa menyebut penganiayaan yang diduga dilakukan Habib Bahar bermula saat saksi korban bernama Cahya Abdul Jabar dan M Hairul Umam menghadiri undangan di Seminya, Bali pada Senin 26 November 2018.

Saat itu, panitia acara sulit untuk dihubungi. Akhirnya, keduanya menginap tiga hari di sebuah hotel di Bali. Pada 29 November, saksi korban berada di Kuta dan ada yang bertanya dan menyebut Cahya sebagai Bahar bin Smith karena mirip.

"Kemudian atas perintah dari M Hairul Umam, Cahya disuruh mengaku sebagai Bahar bin Smith yang dari dulu sudah mengaku-ngaku sebagai Bahar bin Smith. Lalu saksi Cahya menjawab ya," kata jaksa saat membacakan dakwaan.

Pada tanggal 30 November, atas pengakuan itu, Cahya dan Umam dijemput oleh jamaah majelis Rahibul Hadat menuju Bandara Ngurah Rai untuk kembali ke Jakarta dan dibelikan tiket pesawat.

"Si penanya itu kemudian mengajak Cahya dan Umam untuk berbincang dan diantar kembali ke hotel tempat menginap. Terdakwa kemudian mendengar kabar Cahya dan Umam mengaku-ngaku sebagai Bahar bin Smith," lanjut jaksa.

Selepas itu, terdakwa meminta rekannya bernama Hamdi untuk hubungi Abdul Basid dan menanyakan soal Cahya Abdul Jabar dan M Hairul Umam. Pembicaraan telpon itu diambil alih oleh Bahar bin Smith.

"Percakapan telpon dengan Basid diambil alih oleh terdakwa dan terdakwa mengatakan ; 'Ini ana Bahar, bisa cari rumahnya Cahya dan Umam karena di Bali ngaku-ngaku sebagai saya, bahkan istri ana dibawa-bawa. Ente enggak usah bingung, cari rumahnya kalau ada sekarang bawa kesini (Ponpes Tajul Alawiyin)," ujar jaksa mengutip omongan terdakwa.

Basid lalu melaksanakan perintah Habib Bahar dan berhasil menemukan rumah Cahya lalu melaporkannya pada terdakwa. Namun, saat Basid menyambanginya, Cahya tidak berada di rumah.

Adapun Basid turut jadi terdakwa dalam kasus ini bersama Aqil Yahya yang turut serta menganiaya. Setelah menemukan rumah Cahya, ia dibawa ke Ponpes Tajul Alawiyin kemudian diinterogasi oleh Bahar, Basid, Aqil Yahya dan santri lainnya.

Melalui kronologi yang disampaikan jaksa lewat dakwaannya, disampaikan bahwa dugaan penganiayaan terhadap dua remaja itu akhirnya terjadi. [rok]

Komentar

x