Find and Follow Us

Selasa, 19 November 2019 | 08:42 WIB

Polisi Bongkar Pabrik Arak Tanpa Bau di Tuban

Rabu, 27 Februari 2019 | 19:56 WIB
Polisi Bongkar Pabrik Arak Tanpa Bau di Tuban
(Foto: beritajatim)
facebook twitter

INILAHCOM, Tuban - Jajaran Polsek Semanding, Polres Tuban kembali mengungkap keberadaan pabrik produksi minuman keras (miras) jenis arak yang masih nekat melakukan produksi, Rabu (27/2/2019).

Pabrik arak yang digrebek kali ini adalah milik Hadi Haryanto (39), warga Dusun Krajan, Desa Prunggahan Kulon, Kecamatan Semanding, Tuban. Pelaku telah berhasil menciptakan alat dengan menggunakan listrik untuk produksi arak itu.

Pabrik arak milik Hadi tersebut setiap harinya bisa melakukan produksi sekitar 90 liter. Pelaku sebelumnya sudah pernah ditangkap oleh Polsek Semanding dengan kasus yang sama.

"Pelaku ini merupakan pemain lama sudah tertangkap dua kali, yang pertama pada tahun 2017 lalu. Dan proses hukum putusannya di denda," terang AKP Desis Susilo, Kapolsek Semanding, Polres Tuban.

Dalam menjalankan bisnisnya memproduksi arak, Hadi berbeda dengan pelaku pembuat arak lainnya. Pasalnya, Hadi mampu membuat alat sendiri dari berbagai peralatan listrik dengan harapan mengelabui petugas dan para tetangganya.

"Pelaku ini bisa membuat alat penyuling arak dengan menggunakan listrik. Dengan alat yang dibuat sendiri itu ketika produksi tidak mengeluarkan bau, jadi tidak ada tentangganya yang curiga," tambah Kapolsek Semanding itu.

Dalam pengrebekan kali ini, petugas mengamankan sekitar 90 liter arak jadi yang siap diedarkan. Sedangkan untuk baceman (bahan baku arak) ditemukan sekitar 2.600 liter yang ditemukan di rumah pelaku dan rumah mertuanya.

"Dengan menggunakan alat itu, pelaku ini bisa memprodukasi arak dengan kadar alkohol sampai 100 persen. Adapun untuk kelabuhi petugas tempat produksi arak dan penyimpanan baceman itu di lokasi yang berbeda," papar Desis Susilo.

Biasanya arak hasil produksi dari Hadi Haryanto itu diambil tengkulak dari Gresik dan Surabaya. Atas perbuatannya itu Hadi sendiri dijerat dengan Undang-undang nomor 18 tahun 2012 tengang pangan dan pasal 204 ayat 1 KUHP. [beritajatim]

Komentar

x