Find and Follow Us

Selasa, 25 Juni 2019 | 03:52 WIB

Fadli Gerah Puisinya Digoreng Tukang Fitnah

Oleh : Ivan Setyadhi | Minggu, 17 Februari 2019 | 16:00 WIB
Fadli Gerah Puisinya Digoreng Tukang Fitnah
Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon - (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon mengaku geram dengan pihak-pihak yang terus menggoreng puisinya yang berjudul "Doa yang Ditukar" untuk menyebarkan fitnah dan memanipulasi informasi.

Dia mengaku difitnah sebagai telah menyerang K.H. Maimoen Zubair melalui puisi tersebut."Tuduhan tersebut sangat tidak masuk akal, mengingat saya sangat menghormati K.H. Maimoen Zubair dan keluarganya," kata Fadli melalui pernyataan tertulisnya, Minggu (17/2/2019).

Untuk menghindari agar fitnah tersebut tak dianggap sebagai kenyataan, Fadli merasa perlu untuk menyampaikan klarifikasi. Fadli mengaku sangat menghormati K.H. Maimoen Zubair, baik sebagai ulama, maupun sebagai pribadi yang santun dan ramah.

Beberapa kali Fadli pernah bertemu dengan K.H Maimoen. Beberapa di antaranya kebetulan bahkan bertemu di tanah suci Mekah, di pesantren Syekh Ahmad bin Muhammad Alawy Al Maliki, di Rusaifah.

"Hormati para ulama sama seperti halnya kita menghormati para guru atau orang tua kita," kata Fadli.

Justru karena sangat menghormati K.H. Maimoen Zubair, Fadli mengaku tidak rela melihat diperlakukan tidak pantas hanya demi memuluskan ambisi politik seseorang ataupun sejumlah orang.

Inilah yang telah mendorongnya menulis puisi tersebut. Fadli tidak rela ada ulama dibegal dan dipermalukan semacam itu.

"Keluarga K.H. Maimoen Zubair, melalui puteranya, K.H. Muhammad Najih Maimoen, telah memberikan penjelasan bahwa beliau menerima klarifikasi saya bahwa kata ganti 'kau' memang tidak ditujukan kepada K.H. Maimoen Zubair," jelas Fadli.

Penjelasan ini sejak dini juga telah dijelaskannya sampaikan kepada Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin saat tabayun melalui akun media sosialnya.

Fadli mengaku, guru-gurunya banyak berasal dari ulama dan kyai NU, termasuk almarhum K.H. Yusuf Hasyim, putra Hadratus Syekh K.H. Hasyim Asyari.

Saya juga bersahabat karib dengan K.H. Irfan Yusuf dan keluarganya, yang merupakan cucu Hadratus Syekh K.H. Hasyim Asyari. Begitu juga halnya dengan putera pendiri NU yang lain. K.H. Hasib Wahab Abdullah, yang merupakan putera K.H. Wahab Hasbullah, adalah sahabatnya sejak puluhan tahun silam. Fadli juga mengatakan pernah jadi Dewan Penasihat Pencak Silat NU Pagar Nusa.

"Dalam waktu dekat Insya Allah saya mungkin akan bersilaturahim ke K.H. Maimoen Zubair. Meskipun puisi sayasekali lagitidak pernah ditujukan untuk beliau, sebagai salah satu aktor politik saya ingin meminta maaf karena kontestasi politik yang terjadi saat ini mungkin telah membuat beliau dan keluarga menjadi tidak nyaman akibat gorengan orang-orang yang tak bertanggung jawab," ujar Fadli.

Komentar

x