Find and Follow Us

Senin, 23 September 2019 | 00:31 WIB

1.000 Titik Kampanye, Belum Angkat Survei Prabowo

Oleh : R Ferdian Andi R | Selasa, 12 Februari 2019 | 20:26 WIB
1.000 Titik Kampanye, Belum Angkat Survei Prabowo
Calon Presiden dan Wakil Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno - (Foto: Inilahcom/Eusebio CM)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Lembaga riset arus utama menempatkan Prabowo-Sandi di bulan Januari-Februari ini masih tertinggal jauh oleh pasangan Jokowi-Ma'ruf. Kenaikan elektabilitas pasangan ini rata-rata hanya dua poin. Ada apa?

Temuan survei Celebes Research Consulting (CRC) makin menegaskan posisi pasangan Prabowo-Sandi masih tertinggal dari kandidat petahana Jokowi-Maruf. Lembaga riset yang berbasis di Makassar, Sulawesi Selatan ini menempatkan Jokowi-Maruf sebesar 56,1% dan pasangan Prabowo-Sandi sebesar 31,7%. Meski, lembaga pimpinan Herman Heizer ini menemukan pemilih yang belum menentukan pilihan (undecided voters) sebanyak 12,2%.

Enam bulan lalu, saat kedua pasang calon resmi mendaftar di KPU, LSI Denny JA juga telah melakukan sigi elektabilitas para kandidat. Belum genap satu bulan dua pasangan itu terbentuk, elektabilitas pasangan Jokowi-Maruf sebesar 52,2% sedangkan pasangan Prabowo-Sandi hanya membukukan elektabilitas sebesar 29,5%. Pemilih yang belum menentukan pilihan sebesar 18,3%.

Pada September 2018, lagi-lagi sejumlah lembaga riset politik menggelar survei elektabilitas para capres. Saiful Mujani Research Consulting (SMRC) menemukan angka fantastis di kubu Jokowi-Maruf sebesar 60,4%. Sedangkan di kubu Prabowo-Sandi sebesar 29,8%. Hanya 9,8% pemilih yang belum menentukan pilihan.

Bulan Oktober, LSI Denny JA kembali merilis hasil riset temuannya. Dalam riset ini terungkap elektabilitas Jokowi-Maruf naik menjadi 57,7%. Sedangkan pasangan Prabowo-Sandi turun satu poin yakni sebesar 28,6% bila dibandingkan riset oleh lembaga yang sama pada Agustus sebelumnya.

Pada bulan Desember, lembaga Indikator pimpinan Burhanudin Muhtadi melakukan riset dengan hasil, elektabilitas Jokowi-Maruf sebesar 54,9% dan Prabowo-Sandi sebesar 34,8%. Serta sebesar 9,2% pemilih yang belum menentukan pilihannya. Serta 1,1% responden yang mengaku memilih tidak memilih dua-duanya alais golput. Survei dilakukan pada 6-16 Desember 2018. Lembaga survei arus utama hampir kompak menempatkan posisi petahana di atas 50% serta posisi suksesor Prabowo-Sandi di kisaran angka elektabilitas sebesar 29-30%.

Berbeda dengan temuan lembaga riset yang tidak masuk arus utama seperti temuan Median pada Januari lalu pasangan Jokowi-Sandi sebesar 47,9% dan Prabowo-Sandi sebesar 38,7%. Selisih elektabilitas dua capres tersebut di angka 9,2%.

Sebelumnya pada November 2018, Median juga merilis hasil riset yang berbeda dengan lembaga riset arus utama lainnya. Pada November, Media menemukan elektabilitas Jokowi-Maruf sebesar 47,7% dan Prabowo-Sandi sebesar 35,5%.

Temuan yang berbeda juga muncul dari lembaga riset Puskaptis pimpinan Husin Yazid. Survei dilakukan pada 8-14 Januari 2019 lalu. Terungkap elektabilitas pasangan Jokowi-Maruf sebesar 45,90% dan Prabowo-Sandi sebesar 41,80%.

Jika mengamati pergerakan elektabilitas masing-masing kandidat dapat disimpulkan, kampanye yang dilakukan Prabowo-Sandi bersama Badan Pemenangan Nasional (BPN) sama sekali tidak efektif. Bahkan, kunjungan Prabowo-Sandi lebih dari 1.000 titik juga tak memberi dampak apapun jika merujuk lembaga survei arus utama seperti LSI Denny JA, Indikator, SMRC, Charta Politika dan lembaga riset lainnya.

Gemuruh dukungan di media sosial kepada kepada Prabowo-Sandi dalam berbagai jajak pendapat juga tak linier dengan dukungan di darat oleh para pemilih. Berbagai jajak pendapat digelar baik oleh lembaga, media maupun tokoh-tokoh yang memiliki pengikut banyak di media sosial, mayoritas dimenangkan Prabowo-Sandi. Namun, capaian itu tak linier dengan survei yang dilakukan di darat oleh berbagai lembaga riset arus utama tersebut.

Wakil Ketua BPN Ahmad Muzani tak ambil pusing dengan elektabilitas Prabowo-Sandi yang tak bergerak naik kendati telah enam bulan sejak penetapan pasangan ini di KPU. "Gak apa-apa survei jeblok," tegas Muzani di gedung DPR, Kompleks Parlemen Senayan Jakarta.

Muzani justru mempertanyakan sikap pasangan Jokowi-Maruf dan Tim Kampanye Nasional (TKN) yang tampak kerap menyerang dan menekan pasangan Prabowo-Sandi dan BPN. "Kalau merasa menang, kenapa mereka menekan kami," sindir Wakil Ketua MPR RI ini.

Menurut Muzani, sigi yang dilakukan internal tim BPN menunjukkan data yang berbeda. Menurut dia, pergerakan elektabilitas Prabowo-Sandi justru menunjukkan tren peningkatan yang signifikan. "Survei di internal bagus. Ceritanya baik deh," tandas Muzani.

Antusiasime publik dalam merespons kampanye dan kehadiran Prabowo-Sandi di sejumlah tempat tampak tak memiliki makna apapun jika menyandarkan pada temuan-temuan hasil riset lembaga konsultan politik arus utama itu.

Padahal, situasi pemerintahan Jokowi saat ini kerap banyak mendapat sorotan publik. Mulai soal capaian kinerja pertumbuhan ekonomi yang tak mencapai target sebesar 7% serta persoalan sosial politik yang bertubi-tubi muncul di publik. Seperti polemik soal pembebasan Abu Bakar Ba'asyir, pemberian remisi terhadap pembunuh wartawan, dan masalah-masalah krusial yang muncul di tengah publik.

Jika mendasari pada temuan lembaga survei arus utama, apa yang dilakukan Prabowo-Sandi nyaris tak memiliki efek politik signifikan, bahkan bisa disebut gagal. Begitu pula blunder yang kerap dilakukan kandidat petahan termasuk pemerintahan Jokowi juga tak memberi efek negatif bagi publik.

Prabowo-Sandi harus intsrospeksi atas kampanye yang dilakukan selama ini, lagi-lagi bila mendasari temuan hasil riset lembaga survei arus utama. Jargon Indonesia Menang yang dimunculkan kubu Prabowo-Sandi bakal menjadi Indonesia Menangis, karena kalah dari pertarungan.

Komentar

x