Find and Follow Us

Jumat, 19 April 2019 | 02:40 WIB

Tukar Posisi Narasi Jokowi dan Prabowo

Oleh : R Ferdian Andi R | Rabu, 6 Februari 2019 | 20:25 WIB
Tukar Posisi Narasi Jokowi dan Prabowo
(Foto: Inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Pasangan calon presiden nomor urut 01 belakangan kerap menembakkan serangan ke pasangan Prabowo-Sandi. Situasi ini tampak berbeda dengan lima tahun lalu. Dulu, serangan muncul dari pihak Prabowo, kini situasinya berbalik.

Dinamika menjelang 17 April 2019 kian dinamis. Pasangan capres-cawapres Jokowi-Maruf belakangan kerap melontarkan serangan ke pasangan Prabowo-Sandi seperti diksi sontoloyo dan genderuwo. Namun sebaliknya, Prabowo-Sandi lebih banyak dalam posisi bertahan, tidak menyerang.

Simak saja saat debat perdana capres-cawapres pada 17 Januari 2019 lalu. Capres Jokowi kerap bertanya dengan narasi menyerang kepada pasangan nomor urut 02. Seperti soal caleg yang berlatar belakang bekas napi koruptor yang diajukan oleh Partai Gerindra. Namun sebaliknya, kesempatan yang dimiliki Prabowo-Sandi untuk melakukan serangan balik tidak digunakan dengan baik.

Kebiasaan menyerang Jokowi-Maruf ini memang mengalami intensitas tinggi di tahun 2019 ini. Akhir pekan lalu, Jokowi kembali menyentil Prabowo-Sandi dengan menyebutkan penggunaan tim sukses yang menggunakan propaganda ala Rusia. Ia memulainya dengan munculnya berita bohong dan fitnah yang bertujuan untuk mengadu domba. "Ada tim suskes yang menyiapkan propaganda Rusia. Setiap saat mengeluarkan semburan-semburan dusta," sebut Jokowi di Surabaya, Sabtu (2/2/2019) pekan lalu.

Berkat pernyataan Jokowi itu, Duta Besar Rusia untuk Indonesia Lyudmila Verobieva melalui akun Twitter resmi Kedutaan Besar Rusia untuk Indonesia menegaskan Rusia tidak campur tangan pada urusan dalam negeri dan proses-proses elektoral di negara-negara asing, termasuk Indonesia.

"Sebagaimana diketahui, istilah propaganda Rusia direkayasa pada 2016 di Amerika Serikat dalam rangka kampanye Pemilu Presiden. Istilah itu sama sekali tidak berdasarkan pada realitas," sebut Lyudmila.

Klarifikasi Dubes Rusia untuk Indonesia ini pada akhirnya menegasikan pernyataan Jokowi sebelumnya yang menuding ada propaganda Rusia. Situasi ini tentu akan memberi dampak tidak baik dalam hubungan kedua negara. Terlebih Jokowi saat ini selain sebagai capres, ia juga menjadi presiden yang sedang berkuasa.

Setelah Dubes Rusia mengklarifikasi soal istilah propaganda Rusia, Jokowi mengklarifikasi pernyataan tentang istilah yang ia sebutkan. Menurut Jokowi, pernyataan tersebut mengacu pada istilah bukan pada negara tertentu. "Ini kita tidak bicara mengenai negara, bukan negara, tapi terminologi dari artikel di Reins Corporation," sebut Jokowi dalam peringatan hari lahir HMI di Jakarta, Selasa (5/2/2019).

Gaya komunikasi Jokowi yang belakangan memiliki tensi tinggi berbanding terbalik dengan yang terjadi di pasangan nomor urut 02. Cawapres Sandiaga Uno memastikan pihaknya tidak akan membalas menyerang pasangan nomor urut 01. "Prabowo-Sandi tidak akan membalas menyerang. Kita tidak akan saling provokasi," sebut Sandi saat melakukan kunjungan di Madiun Jawa Timur.

Tensi tinggi menjelang Pemilu 2019 ini menimbulkan tanya di publik soal perubahan gaya komunikasi Jokowi yang berbeda dengan momentum politik sebelumnya. Berubahnya gaya komunikasi Jokowi menimbulkan spekulasi mulai soal melorotnya elektabilitas hingga dikesankan sebagai bentuk perlawanan keras terhadap kubu Prabowo-Sandi yang dinarasikan kerap menyebar berita bohong dan fitnah.

Komentar

x