Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 17 Februari 2019 | 15:51 WIB

Misteri Selisih Elektabilitas Jokowi-Prabowo

Oleh : R Ferdian Andi R | Kamis, 31 Januari 2019 | 20:11 WIB

Berita Terkait

Misteri Selisih Elektabilitas Jokowi-Prabowo
(Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Elektabilitas calon presiden-calon wakil presiden selalu menarik untuk diikuti. Meski, kepercayaan sebagian publik terhadap hasil riset oleh perusahaan riset politik lambat laun mulai pudar. Pemicunya, sejumlah riset terbukti melenceng jauh dari hasil di lapangan. Tak terkecuali berapa selisih elektabilitas Jokowi vs Prabowo?

Selisih elektabilitas Jokowi-Ma'ruf dan Prabowo-Sandi memiliki banyak versi. Meski, semua survei yang dilansir baik yang dilakukan oleh perusahaan riset maupun sejumlah partai politik mengkonfirmasi Jokowi masih di atas Prabowo. Pertanyaannya berapa selisih di antara keduanya, apakah makin mendekat atau menjauh?

Jika merujuk hasil riset sejumlah perusahaan riset politik, selisih kedua kandidat itu juga variatif. Seperti hasil dari riset Median yang digelar pada 6-15 Januari 2019 mengungkapkan elektabilitas Jokowi-Ma'ruf sebesar 47,9% dan Prabowo-Sandi sebesar 38,7%. Hasil survei ini menempatkan responden yang belum menentukan pilihan alias swing voters sebesar 13,4%. Jika merujuk hasil riset ini, selisih dua kandidat berada di bawah 10% yakni di kisaran 8%.

Sedangkan hasil riset Charta Politik mengungkapkan Jokowi-Ma'ruf di angka 53,2% dan Prabowo-Sandi di angka 34,1%. Sebanyak 12,7% responden yang belum menentukan pilihannya. Selisih Jokowi-Prabowo di riset ini hampir 20% yakni di angka 18%. Survei ini dilakukan pada 22 Desember 2018-2 Januari 2019.

Hasil riset Indikator Politik pimpinan Burhanudin Muhtadi setali tiga uang dengan hasil riset Charta Politika. Riset yang dilakukan pada 16-26 Desember lalu itu mengungkapkan elektabilitas Jokowi-Ma'ruf 54,9% sedangkan elektabilitas Prabowo-Sandiaga sebesar 34,8%. Selisih elektabilitas Jokowi-Ma'ruf dan Prabowo-Sandi hampir 20%. Di riset ini, swing voter sebesar 9,2%.

Hasil riset yang terbaru dilakukan LSI Denny JA pada 18-25 Januari 2019 lalu atau survei dilakukan setelah debat perdana mengungkapkan elektabilitas Jokowi-Ma'ruf sebesar 54,8% sementara elektabilitas Prabowo-Sandi sebesar 31%. Selisih dua capres ini cukup tinggi yakni sebesar 24%.

Berbagai riset tersebut tak sepenuhnya dipercaya oleh semua pihak. Setidaknya dari pihak Prabowo-Sandi, riset tersebut memiliki perbedaan yang signifikan dengan survei yang dilakukan di masing-masing internal pasangan ini.

Seperti yang diungkapkan politisi PKS Mardani Ali Sera yang mengungkapkan dari survei internal yang dilakukan mengungkapkan selisih di antara dua kandidat itu kian tipis saja. Meski, posisi Jokowi masih unggul dibanding Prabowo.

Dalam unggahan di akun twitternya, Mardani mengungkapkan elektabilitas paslon nomor urut 01 sebesar 44,5% dan paslon nomor urut 02 sebesar 42,36% dengan pemilih yang belum menentukan pilihan sebesar 13,10%. "Jika kita naik 1% maka mereka turun 1%. Swing voters masih belum bergerak di angka 13%. Insya Allah pekan ini cross," kicau Mardani.

Survei yang digelar di 3,5 bulan menjelang Pilpres itu tentu tidak bisa dijadikan gambaran saat Pilpres kelak. Riset dilakukan untuk mengetahui kecenderungan pemilih saat riset dilakukan. Riset yang dilakukan oleh masing-masing internal pasangan calon dimaksudkan untuk mengetahui kecenderungan pemilih dalam menentukan ilihan saat Pemilu 17 April 2019 mendatang.

Namun, jika mengamati tren hasil riset yang dilakukan sejumlah lembaga riset arus utama, tampak memberi pesan, kerja politik yang dilakukan Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi selama hampir 3 bulan lebih ini tak memiliki dampak signifikan. Bila pun elektabilitasnya naik, tak signifikan.

1.000 titik yang disinggahi Sandi dan Prabowo selama 3 bulan lebih masa kampanye ini nyaris tak memberi efek apapun ke publik. Begitu pula heboh publik dalam penyambutan Sandi yang kerap diserbu kaum ibu dan millennial juga nyaris tak memberi dampak signifikan bagi elektabilitas Prabowo-Sandi.

Akhirnya, elektabilitas para capres tak ubahnya sebuah misteri. Nyatanya, ada hasil lain yang berbeda dengan hasil dari lembaga riset arus utama. Seperti klaim kubu BPN Prabowo-Sandi yang mengungkap selisih antarcapres tinggal 1%. Jika ini benar, tentu bakal menjawab misteri soal elektabilitas petahana yang nyaris tak goyah meski digempur berbagai kampanye yang dilakukan Prabowo-Sandi.

Komentar

x