Find and Follow Us

Kamis, 19 September 2019 | 00:04 WIB

AJI Minta Remisi Pembunuhan Jurnalis Dicabut

Oleh : Fadhly Zikry | Sabtu, 26 Januari 2019 | 18:04 WIB
AJI Minta Remisi Pembunuhan Jurnalis Dicabut
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta memprotes pemberian remisi terhadap I Nyoman Susrama, terpidana kasus pembunuhan jurnalis Radar Bali, AA Gde Bagus Narendra Prabangsa.

Ketua AJI Jakarta, Asnil Bambani Amri mengatakan, berdasarkan data AJI, kasus Prabangsa adalah satu dari banyak kasus pembunuhan jurnalis di Indonesia. Kasus Prabangsa adalah satu dari sedikit kasus yang sudah diusut. Sementara, masih ada 8 kasus lainnya belum tersentuh hukum.

"Delapan kasus itu, di antaranya, Fuad M Syarifuddin (Udin), wartawan Harian Bernas Yogya (1996), pembunuhan Herliyanto, wartawan lepas harian Radar Surabaya (2006), kematian Ardiansyah Matrais, wartawan Tabloid Jubi dan Merauke TV (2010), dan kasus pembunuhan Alfrets Mirulewan, wartawan Tabloid Mingguan Pelangi di Pulau Kisar, Maluku Barat Daya (2010)," kata Asnil Bambani melalui keterangan tertulisnya, Sabtu (26/1/2019).

Berbeda dengan lainnya lanjut Asnil, kasus Prabangsa ini bisa diproses hukum dan pelakunya divonis penjara. Dalam sidang Pengadilan Negeri Denpasar 15 Februari 2010, hakim menghukum Susrama dengan divonis penjara seumur hidup. Sebanyak delapan orang lainnya yang ikut terlibat, juga dihukum dari 5 tahun sampai 20 tahun. "Upaya mereka untuk banding tak membuahkan hasil. Pengadilan Tinggi Bali menolak upaya kesembilan terdakwa, April 2010. Keputusan ini diperkuat oleh hakim Mahkamah Agung pada 24 September 2010," ujarnya.

Melalui Kepres No. 29 tahun 2018, pemerintah memberi keringanan hukuman kepada Susrama. Ketua Advokasi AJI Jakarta Erick Tanjung mengatakan, pihaknya mengecam kebijakan Presiden Joko Widodo yang memberikan remisi kepada pelaku pembunuhan keji terhadap jurnalis.

"Fakta persidangan jelas menyatakan bahwa pembunuhan ini terkait berita dan pembunuhannya dilakukan secara terencana. Susrama sudah dihukum ringan karena jaksa sebenarnya menuntutnya dengan hukuman mati, tapi hakim mengganjarnya dengan hukuman seumur hidup," kata Erick.

Erick menambahkan, kebijakan Presiden Jokowi yang mengurangi hukuman itu melukai rasa keadilan tidak hanya keluarga korban, tapi juga jurnalis di seluruh Indonesia. Untuk itu, pihaknya mendesak Presiden Jokowi untuk mencabut Keppres pemberian remisi terhadap Susrama, sebab kebijakan itu bertentangan dengan kebebasan pers.

"AJI menilai tak diadilinya pelaku kekerasan terhadap jurnalis, termasuk juga memberikan keringanan hukuman bagi para pelakunya, akan menyuburkan iklim impunitas dan membuat para pelaku kekerasan tidak jera, dan itu bisa memicu kekerasan terus berlanjut. AJI juga meminta Presiden Joko Widodo menuntaskan 8 kasus pembunuhan jurnalis lainnya," pungkas Erick. [fad]

Komentar

x