Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 22 Februari 2019 | 04:04 WIB

Jurnalis-Mahasiswa Tolak Remisi Pembunuh Wartawan

Jumat, 25 Januari 2019 | 14:43 WIB

Berita Terkait

Jurnalis-Mahasiswa Tolak Remisi Pembunuh Wartawan
(Foto: antara)

INILAH.COM, Malang-Puluhan Jurnalis dan mahasiswa menolak remisi Presiden RI Joko Widodo untuk I Nyoman Susrama, pembunuh wartawan bernama AA Gede Bagus Narendra Prabangsa.

Adapun Susrama narapidana dengan hukuman seumur hidup karena menjadi otak pembunuhan jurnalis Radar Bali, AA Gede Bagus Narendra Prabangsa.

Susrama kini mendapat remisi dari Jokowi, sehingga masa hukuman menjadi 20 tahun. Demonstran menilai pemberian remisi Jokowi kepada Susrama merupakan preseden buruk atas kebebasan pers dan demokrasi di Indonesia.

"Sebetulnya hukuman seumur hidup itu lebih ringan dari tuntutan jaksa yakni hukuman mati. Tapi kini justru diberi remisi. Ini menjadi preseden buruk kebebasan pers dan demokrasi di Indonesia," kata Kordinator Aksi, Abdul Malik, Jumat (25/1/2019), seperti dikutip Antaranews.com.

Malik mengatakan, remisi bisa saja diterima Susrama hingga pembebasan bersyarat selama menjalani hukuman 20 tahun kurungan penjara. Ia terjerat hukum dan diadili pada tahun 2010 silam.

Ia menjadi dalang pembunuhan Prabangsa. Motif pembunuhan Prabangsa diduga terkait berita dugaan korupsi dan penyelewengan yang melibatkan Susrama yang dimuat Harian Radar Bali, Jawa Pos Grup dua bulan sebelumnya.

Benni Indo salah satu peserta aksi mengatakan, remisi yang diberikan Jokowintelah menyakiti seluruh jurnalis, khususnya para keluarga. Keputusan remisi yang dinilai sebagai pertimbangan kemanusiaan, justru mencederai kemanusiaan.

"Prabangsa menulis terkait dugaan korupsi. Korupsi adalah kejahatan luar biasa. Bagaimana mungkin, sosok yang mengungkapkan adanya korupsi, adanya kejahatan luar biasa malah dibunuh dengan cara keji. Lalu pembunuhnya diberi remisi. Ini bentuk kemuduran demokrasi dan kebebasan pers," tandas Benni.

Susrama ditahan sejak 26 Mei 2009. Majelis hakim Pengadilan Negeri Denpasar pada 15 Februari 2010 menyatakannya terbukti bersalah menjadi otak pembunuhan sehingga divonis penjara seumur hidup. Namun, melalui Keputusan Presiden Nomor 29 Tahun 2018 Tentang Pemberian Remisi Berupa Perubahan dari Pidana Penjara Seumur Hidup Menjadi Pidana Penjara Sementara, Susrama mendapat keringanan hukuman. [tar]

Komentar

Embed Widget
x