Find and Follow Us

Minggu, 20 Oktober 2019 | 17:45 WIB

MK Uji Aturan Hukuman Mati Bagi Koruptor

Selasa, 22 Januari 2019 | 21:20 WIB
MK Uji Aturan Hukuman Mati Bagi Koruptor
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta-Mahkamah Konstitusi (MK) menggelar sidang pendahuluan pengujian frasa nasional dalam Pasal 2 ayat (2) UU Nomor 31/1999 tentang Tindak Pidana Korupsi tentang aturan hukuman mati bagi pelaku korupsi dana atau bantuan bencana alam.

"Bahwa adanya kata nasional'setelah frasa bencana alam menyebabkan hukuman mati, hanya dapat diterapkan terhadap tindak pidana yang dilakukan dalam keadaan bencana alam, yang mendapatkan status bencana alam nasional oleh pemerintah pusat," ujar kuasa hukum pemohon, Yohanes Mahatma Pambudianto di Gedung MK Jakarta, Selasa (22/1/2019), Antaranews.com.

Pemohon berpendapat status bencana alam kemudian terkesan melindungi koruptor untuk tidak memiliki rasa takut melakukan korupsi di wilayah yang sedang terkena bencana alam, sepanjang bencana tersebut tidak mendapat status bencana alam nasional.

"Padahal yang menjadi penderita dalam setiap kejadian bencana alam tetap memiliki hak untuk mendapatkan perlindungan dan jaminan pemenuhan hak yang menjadi tanggung jawab dari negara," kata Yohanes.

Hal itu kemudian dinilai pemohon sebagai dasar bahwa tidak ada pembedaan atas derita yang dialami oleh masyarakat yang terkena bencana alam, baik berstatus bencana alam nasional maupun tidak.

Pemohon berargumen bahwa sanksi pidana hukuman mati seharusnya diterapkan bagi pelaku tindak pidana korupsi dalam keadaan bencana alam, terlepas ditetapkan berstatus nasional atau tidak.

"Maka kata nasional'setelah frasa bencana alam telah menjadi hambatan upaya pemberantasan korupsi dalam hal pemberian sanksi hukuman mati," kata Yohanes. [tar]

Selain itu kata nasional juga dianggap pemohon telah menimbulkan ketidakpastian hukum yang adil karena akhirnya penentuan terhadap penerapan hukuman mati bagi pelaku kejahatan korupsi, bergantung pada status yang secara subjektif diberikan oleh presiden.

Berdasarkan hal tersebut, pemohon meminta MK menyatakan kata nasional setelah frasa bencana alam dalam Penjelasan Pasal 2 ayat (2) UU Tipikor bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. [tar]

Komentar

Embed Widget
x