Find and Follow Us

Selasa, 23 April 2019 | 10:30 WIB

Kata Polri Soal Iwan Bule dan Serangan ke Novel

Oleh : Muhammad Yusuf Agam | Rabu, 16 Januari 2019 | 17:23 WIB
Kata Polri Soal Iwan Bule dan Serangan ke Novel
Kadiv Humas Polri Irjen Mohammad Iqbal - (Foto: Inilahcom/MY Agam)

INILAH.COM, Jakarta - Sekretaris Utama (Sestama) Lemhanas, Komjen Mochammad Iriawan atau akrab disapa Iwan Bule disebut mengetahui sebelum insiden penyiraman air keras terhadap penyidik KPK, Novel Baswedan. Hal itu disampaikan oleh laporan Koalisi Masyarakat sipil Antikorupsi.
Kala itu, Iwan Bule yang menjabat sebagai Kapolda Metro Jaya disebut memberi peringatan kepada Novel bahwa akan serangan yang menimpa Novel.
Kadiv Humas Polri Irjen Mohammad Iqbal mengatakan laporan dari Koalisi masyarakat sipil antikorupsi telah ditindaklanjuti oleh Polri. Iqbal menyatakan Polri sangat menghargai laporan dari Koalisi masyarakat sipil antikorupsi.
"Kami menanggapi tentang siaran pers atau surat koalisi masyarakat sipil anti korupsi. Pertama kami menghargai surat itu, dan itu masukan bagi kami. Masukan tambahan petunjuk untik lebih maksimal dalam upaya kepolisian dalam menuntaskan kasus yang menimpa saudara NB," kata Iqbal di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (16/1/2019).
Iqbal mengatakan tindak-lanjut yang dimaksud yakni dengan memeriksa Iriawan. Propam Polri turun langsung untuk memeriksa Iriawan. Hasilnya, Iqbal mengatakan bahwa Iriawan membantah laporan tersebut.
"Kami sudah periksa pak MI, Kapolda Metro Jaya pada masanya, propam sudah periksa, hasilnya beliau sampaikan tidak pernah menyampaikan hal itu kepada sudara NB," jelas Iqbal.
Nama mantan Kapolda Metro Jaya Mochammad Iriawan disebut sudah tahu akan ada serangan terhadap penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan. Sebuah laporan dari koalisi masyarakat sipil mencatat Iriawan sempat memberi peringatan kepada Novel terkait serangan itu.
"Kapolda Metro Jaya waktu itu (M Iriawan) sudah memperingatkan Novel bahwa ia akan mendapat serangan dan menawarkan pengamanan dan pengawalan," demikian bunyi laporan tersebut yang dirilis di Gedung KPK, Selasa (15/1).
Setelah mendapat peringatan tersebut, Novel menyarankan balik agar tawaran pengamanan tadi disampaikan ke pimpinan KPK untuk menghindari hubungan personal. Namun pada akhirnya mereka tidak tahu pencegahan macam apa yang akhirnya diambil oleh kepolisian hingga insiden penyiraman air keras itu terjadi.
Laporan ini menyimpulkan bahwa pihak kepolisian tidak mengambil tindakan apa pun untuk mengantisipasi serangan.
"Kepolisian telah mengetahui serangan sejak awal, tetapi tidak mampu karena satu dan lain hal diam atau tidak melakukan upaya pencegahan," demikian bunyi laporan tersebut.
Laporan pemantauan ini dibuat oleh lintas lembaga swadaya masyarakat (LSM). Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan (KontraS), Lokataru Foundation, Indonesia Corruption Watch (ICW), LBH Pers, PSHK AMAR, Pusat Studi Konstitusi Universitas Andalas, dan Pukat UGM tercatat sebagai penyusunnya.

Komentar

x