Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 22 Maret 2019 | 14:33 WIB

Legitimasi KPU Rawan Keropos

Oleh : R Ferdian Andi R | Senin, 7 Januari 2019 | 11:35 WIB

Berita Terkait

Legitimasi KPU Rawan Keropos
(Foto: Inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Komisi Pemilihan Umum (KPU) belakangan banyak mendapat sorotan kritis dari publik. Jika sebelumnya soal kotak suara dari kardus, kini peniadaan penyampaian visi misi capres-cawapres oleh pasangan capres-cawapres serta penyampaian daftar pertanyaan sebelum debat disorot tajam publik. Jika tak mendengarkan suara publik, legitimasi KPU rawan keropos.

KPU kini banyak mendapat sorotan dari publik. Sejak akhir pekan kemarin, protes publik tercermin di media sosial yang mempertanyakan kebijakan KPU yang membuka kisi-kisi pertanyaan debat sepekan sebelum pelaksanaan debat. KPU memiliki alasan mengapa lembaga penyelenggara pemilu ini menyampaikan kisi-kisi pertanyaan sebelum pelaksanaan debat. KPU berpendapat debat merupakan momentum penyampaian gagasan bukan pada pertunjukannya.

"Lagi pula debat kandidat bukan show yang penuh tebak-tebakan. Karena bukan itu substansinya. Toh yang lebih dibutuhkan pemilih adalah gagasannya, visi-misinya, bukan shownya," ujar komisioner KPU Pramono U Tanthowi dalam siaran persnya, Minggu (6/1/2019) di Jakarta.

Di samping soal debat, langkah KPU yang membatalkan memfasilitasi penyampaian visi misi capres-cawapres tak luput mendapat sorotan. Ini dipicu masing-masing pasangan tidak memiliki satu kata soal format penyampauan visi misi capres-cawapres.

Bila pasangan Jokowi-Ma'ruf menginginkan penyampaian visi-misi disampaikan tim pemenangan. Berbeda dengan pasangan Prabowo-Sandi yang menginginkan pasangan capres-cawapres yang langsung menyampaikan visi-misinya. "Karena masih punya ide yang beda, sosialisasi diputuskan dilakukan masing-masing pasangan calon," ujar Ketua KPU Arief Budiman akhir pekan lalu.

Namun, argumentasi yang disampaikan KPU soal kisi-kisi soal termasuk pembatalan fasilitasi penyapaian visi-misi capres-cawapres menimbulkan polemik berkepenajngan di tengah publik. Tak urung sejumlah tanda pagar di media sosial sebagai bentuk protes dari publik atas kebijakan KPU.

Seperti tanda pagar #KPUWasitRasaTimses menduduki topik yang paling banyak dibicarakan di media sosial Twitter sejak Minggu (6/1/2019) malam hingga Senin (7/1/2019) pagi. Tanda pagar ini merupakan kritik keras terhadap sikap KPU yang tidak tegas dalam menyusun rencana dalam tahapan pemilu, seperti soal sikap yang mengurungkan mmefasilitas penyampaian visi-misi capres-cawapres.

Seperti kicauan Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah yang menyoroti soal kisis-kisi materi debat yang diberikan sepekan sebelum pelaksanaan debat paslon capres-cawapres. "Dia kira ini UMPTN apa namanya ujian masuk universitas, pakai istilah Bank soal Masalah bangsa ini mau kemana gak jelas," kicau Fahri, Senin (7/1/2019).

Sebelum tanda pagar tersebut juga mencuat tanda pagar yang sepanjang Minggu (6/1/2019) siang hingga malam menduduki topik yang banyak dibincangkan warga internet dengan tanda pagar #JokowiTakutPaparkanVisiMisi. Tanda pagar itu sebagai respons atas gagalnya KPU dalam memfasilitasi penyampaian visi-misi capres-cawapres.

Dari protes yang muncul di publik atas sikap KPU ini terdapat dua hal yang muncul pertama sikap kritis publik terhadap sikap KPU. Kritisisme publik ini jika tak direspons, bakal menjadi masalah serius di kemudian hari. Anggapan publik yang menilai KPU wasit rasa tim sukses semestinya dijawab dengan kinerja yang transparan dan terbuka di hadapan publik atas setiap proses tahapan pemilu.

Kedua, kesan negatif yang dimunculkan terhadap pasangan Jokowi-Maruf yang dikesankan pihak yang tidak berani menyampaikan visi-misi pencapresannya. Tidak hanya itu, bocoran kisis-kisi tema debat juga mengesankan pasangan petahana takut dalam berdebat. Poin ini sebenarnya merugikan pasangan petahana Jokowi-Maruf.

KPU harus hati-hati membuat keputusan terkait dengan tahapan pilpres. Suara publik tak bisa diabaikan begitu saja. Suara publik merupakan aspirasi yang patut didengar. Jangan sampai muncul kesan, KPU menjadi wasit yang bercitra rasa tim sukses. Jika kesan itu terus dimunculkan tentu bakal mengancam legitimasi KPU di waktu-waktu mendatang.

Komentar

x