Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 16 Desember 2018 | 16:45 WIB

Bamsoet Ajak Kader FKPPI Lawan Fitnah Jokowi PKI

Oleh : Ahmad Farhan Faris | Jumat, 7 Desember 2018 | 21:21 WIB

Berita Terkait

Bamsoet Ajak Kader FKPPI Lawan Fitnah Jokowi PKI
Ketua DPR RI, Bambang Soesatyo - (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Ketua DPR RI, Bambang Soesatyo mengajak seluruh kader FKPPI untuk mendukung pemerintahan dan melawan berbagai isu yang menyerang Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai antek PKI.

Bamsoet bersama Presiden Jokowi menghadiri acara Jambore Bela Negara dengan peserta 1.300 orang dari FKPPI. Selain itu, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, Menko Polhukam Wiranto, Menteri Sekretaris Kabinet Pramono Anung juga hadir di Bumi Perkemahan Ragunan.

Menurut dia, Jokowi merupakan Anggota Kehormatan FKPPI sehingga suatu kebanggaan di tengah kesibukan sebagai Presiden RI selalu hadir dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh FKPPI. Tentu, ini merupakan kecintaan Presiden Jokowi kepada FKPPI.

"Kalau beliau sudah cinta kepada FKPPI, rasanya kurang elok kalau FKPPI tidak cinta beliau. Jadi, ada kalau ada pihak-pihak yang memfitnah mengaitkan beliau isu PKI, kita wajib membelanya. Kita berjuang bersama," kata Bamsoet di Jakarta, Jumat (7/12/2018).

Bukan hanya itu, Bamsoet mengatakan keluarga besar FKPPI juga harus mendukung Pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla (JK). Bahkan, mendukung Jokowi kembali maju sebagai incumbent pada Pilpres 2019.

"Kita harus terus mendukung pemerintahan Presiden Joko Widodo. Saat ini kita juga patut bangga bahwa Bapak Jokowi anggota kehormatan FKPPI maju kembali di Pilpres 2019. Untuk itu, kita satukan barisan. Kalau bukan kita, siapa lagi. Kalau tidak sekarang, kapan lagi," ujarnya.

Di samping itu, Bamsoet mengingatkan saat ini Indonesia memang tidak memghadapi ancaman fisik bersenjata dari negara lain. Namun, ancaman sekarang bisa dikatakan perang pemikiran serta ideologi yang bertentangan dengan Pancasila.

"Ancaman yang kita hadapi seperti ancaman liberalisme, kapitalisme, radikalisme maupun terorisme. Kemudian, perang modern yang dikenal sebagai proxy war menggunakan kekuatan-kekuatan dari dalam negeri sendiri," jelas dia.[jat]

Komentar

x