Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 15 Desember 2018 | 15:30 WIB

Efek Bendera Tauhid, NU-Dubes Arab Menegang

Oleh : R Ferdian Andi R | Selasa, 4 Desember 2018 | 20:16 WIB

Berita Terkait

Efek Bendera Tauhid, NU-Dubes Arab Menegang
(Foto: istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Nahdlatul Ulama (NU) memprotes keras kicauan Dubes Arab Saudi untuk Indonesia Osamah Muhammad al-Suaibi yang secara tidak langsung menyebut GP Ansor merupakan organisasi sesat atau menyimpang. Tak tanggung-tanggung PBNU langsung turun tangan tanggapi cuitan yang belakangan telah direvisi itu. Semua dipicu bendera tauhid.

Sehari setelah gelaran Reuni Akbar 212 di Lapangan Monumen Nasional (Monas) yang diikuti jutaan massa itu, PBNU pimpinan Said Aqil Siradj menggelar jumpa pers. Bukan soal reuni 212, namun soal yang cuitan Dubes Arab Saudi untuk Indonesia, Osamah Muhammad al-Suaibi.

Dalam cuitan pertama yang belum direvisi, Osamah sebenarnya menekankan imbauan kepada warga negara Arab Saudi yang berada di Jakarta agar menjauhi lokasi tempat kegiatan Reuni 212 berlangsung yakni di sekitar Monas. Namun kicauan itu menjadi tertutup kalimat sebelumnya yang menyebut soal kegiatan tersebut sebagai protes atas pembakaran bendera tauhid yang dilakukan oleh organisasi sesat atau menyimpang (al-munharifah). Kicauan inilah yang menjadi pemicu, elit NU dan GP Ansor meradang.

Said Aqil Siradj menggelar jumpa pers memprotes kicauan Dubes Arab Saudi yang kini memasuki masa pensiun itu. Said menyebut Dubes ARab Saudi untuk Indonesia telah menyebar fitnah dengan menuduh aksi pembakaran bendera dilakukan oleh organisasi sesat atau menyimpang. "Padahal terkait hal ini, GP Ansor sudah memberikan sanksi kepada oknum yang melakukan pembakaran dan tindakan tersebut keluar dari SOP GP Ansor," sebut Said dalam jumpa pers, di Kantor PBNU, Senin (3/12/2018).

Said juga meminta agar pemerintah RI menyampaikan nota kepada Pemerintah Saudi agar memulangkan Osamah sebagai bagian dari sanksi atas tindakan yang gegabah dengan mencampuri urusan politik negara Indonesia.

Protes serupa juga muncul dari Kementerian Luar Negeri. Melalui Jubir Kemlu Armanatha Nasir pemerintah RI menyesalkan pernyataan yang ditullis Dubes Arab Saudi melalui media sosial. Ia menilai, secara substansi pernyataan Osamah tidaklah tepat. "Secara etika, penyampaian pernyataan seperti yang ada dalam sosmed Dubes Saudi tidak sesuai dengan prinsip hubungan diplomatik," sebut Armantha.

Namun, tak semuanya sependapat dengan pandangan tersebut. Imam Besar FPI Rizieq Shihab misalnya menyoal sikap PBNU dan Ansor yang marah dengan kicauan Dubes Arab untuk Indonesia. "Yang jadi masalah PBNU dan Ansor dan Banser kok marah-marah padahal Dubes Saudi tidak sebut nama orang maupun nama ormas," sebut Rizieq melalu selebaran yang diterima jurnalis, Selasa (4/12/2018).

Ia menilai, soal pembakaran bendera tauhid tidak hanya urusan Indoensia, tetapi umat Islam se-dunia. Ia pun mendukung pernyataan Dubes Arab Saudi di Indonesia yang menyebut pembakaran bendera tauhid merupakan sikap yang menyimpang.

Kicauan Dubes Arab Saudi memang pada akhirnya memunculkan polemik. Ada yang pro dan yang kontra. Polemik ini tidak terlepas dari polemik serupa saat bendera tauhid dibakar oleh kader Banser saat peringatan Hari Santri Nasional pada 22 Oktober 2018 lalu di Garut, Jawa Barat.

Kicauan Dubes yang polemik tersebut semestinya tak perlu muncul yang menulis dengan kicauan organsiasi menyimpang di media sosial. Begitu pula, pembakaran bendera tauhid juga semestinya tak perlu terjadi yang dilakukan oleh Banser, termasuk sikap defensif Banser atas peristiwa tersebut. Baiknya, kedua belah pihak saling bertabayun agar masalah yang semestinya tak perlu terjadi ini menjadi terang dan jelas. Publik tak lagi diajak berpolemik yang tak perlu.

Komentar

x