Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 15 Desember 2018 | 17:28 WIB

Resonansi Politik Reuni 212 untuk Pemilu 2019

Jumat, 30 November 2018 | 15:11 WIB

Berita Terkait

Resonansi Politik Reuni 212 untuk Pemilu 2019
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Peringatan aksi 212 bakal digelar pada Minggu (2/12/2018) lusa di tugu Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat. Ada pro dan kontra atas peringatan kedua aksi kelompok Islam ini. Sulit menampik bila peringatan ini jauh dari resonansi politik Pemilu 2019.

Aksi 212 dua tahun lalu menjadi legenda. Peristiwa dua tahun silam itu kini kembali diperingati. Jauh sebelum pelaksanaan acara tersebut, informasi soal rencana reuni 212 telah santer tersiar. Meski jauh-jauh hari acara reuni ini dijauhkan dari unsure politik, namun tetap saja, efek kegiatan ini memiliki aspek politik yang tidak kecil.

Seperti seruan agar peserta reuni dilarang membawa atribut partai politik. "Ini bukanlah ajang politik praktis atau kampanye pasangan calon tertentu. Malah kami melarang peserta mengenakam atribut politik," sebut Ketua Panitia Slamet Maarif dalam jumpa pers, Rabu (28/11/2018).

Namun demikian, dari pihak-pihak yang berencana hadir dalam kegiatan tersebut dapat dilihat secara kasat mata didominasi pendukung pasangan nomor urut Prabowo-Sandi. Seperti Presiden PKS yang mengimbau kadernya untuk hadir dalam acara tersebut.

Sejumlah politisi juga mengonfirmasi hadir dallam perhelatan tersebut sebut saja Fadli Zon dan Fahri Hamzah. Antusiasme publik untuk hadir dalam acara tersebut juga tampak tersiar di berbagai platform media sosial. Seperti sekelompok santri dari Ciamis yang digambarkan sedang berjalan menuju Jakarta.

Peringatan 2 tahun aksi 212 yang jatuh empat bulan jelang pelaksanaan Pemilu 2019 ini tentu langsung atau tidak langsung akan memberi dampak politik dalam Pemilu 2019. Setidaknya, terjadi konsolidasi bagi kelompok yang mengidentifikasi pada ide yang sama termasuk pilihan politik yang sama dalam Pemilu 2019 mendatang.

Ide yang diusung kelompok ini di antaranya tentang anti-penistaan yang kala itu ditujukan kepada Basuki Tjahaja Purnama. Selain itu, dalam kegiatan tersebut juga berencana akan mengibarkan sejuta bendera tauhid. Soal bendera tauhid ini tampak memberi pesan atas peristiwa yang terjadi di Garut, soal pembakaran bendera Tauhid.

Kesamaan isu dan cita-cita itulah yang menjadikan kegiatan reuni 212 itu memiliki efek politik yang tidak kecil bagi Pilpres 2019 mendatang. Reuni tak sekadar pengajian dan kegiatan keagamaan yang direncanakan panitia. Setidaknya banyak kesamaan isu dan cita-cita akan menjadikan kegiatan tersebut.

Di sisi lain, respons negatif dan sikap resistensi atas kegiatan tersebut oleh sebagian kelompok kontra kegiatan ini justru menambah sikap heroik dan militansi dari para peserta dan penyelenggara. Olok-olok dan nyinyiran yang ditujukan pada kelompok ini alih-alih mengendurkan semangat untuk hadir, justru kian tergerak untuk hadir dalam kegiatan tersebut.

Baiknya, semua pihak agar dapat menghargai aspirasi dan ekspresi kelompok lainnya melalui kegiatan tersebut. Nyinyiran dan olok-olok terhadap kegiatan tersebut hanya menambah sisi politis kegiatan tersebut. Di sisi lain, kelompok yang enggan hadir dalam kegiatan tersebut juga tak perlu dipandang sebelah mata. Sikap saling menghargai di antara elemen masyarakat akan meminimalkan efek negatif kegiatan tersebut.

Komentar

x