Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 13 Desember 2018 | 10:07 WIB

Melarang Reuni 212, Tradisi Buruk Sistem Demokrasi

Oleh : Happy Karundeng | Jumat, 30 November 2018 | 07:02 WIB

Berita Terkait

Melarang Reuni 212, Tradisi Buruk Sistem Demokrasi
Politkus Partai Gerindra Nizar Zahro - (Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Politkus Partai Gerindra Nizar Zahro mengatakan makna substantif yang ia tangkap dari Reuni Akbar 212 adalah ghirah atau semangat perjuangan yang harus terus dikobarkan dalam rangka menghimpun kekuatan dalam melawan kesewenang-wenang penguasa.

"Karena tidak menutup kemungkinan kedzaliman akan dilakukan oleh orang-orang tertentu pada masa-masa yang akan datang dan reuni inilah yang akan mengingatkan bahwa prilaku itu akan dilawan dengan kekuatan yang dasyat dari masyarakat," katanya kepada INILAHCOM, Kamis (29/11/2018).

Untuk itu ia mengimbau untuk bangun rasa husnudzan atau berprasangka baik dalam melihat atau menilai sesuatu. Carilah makna positif dari reuni tersebut jangan selalu dilihat dari kacamata prasangka buruk sehingga muncullah statemen busuk untuk orang lain.

"Misalkan ada hal-hal yang keluar dari koridor yang semestinya. Negara kan punya aparat, ya tindak aja. Tetapi melarang dan memberi statemen jelek di awal begitu adalah tradisi buruk dalam sistem demokrasi yang tidak perlu dilestarikan," sesalnya.

Diketahui Aksi Bela Islam 2 Desember digelar pertama kali di kawasan Monas pada 2016 silam. Kemudian gerakan yang kemudian santer dengan sebutan aksi 212 ini sempat menggelar reuni Persaudaraan Alumni (PA) 212 tahun 2017 lalu. Kemudian tahun 2018 ini merupakan reuni akbar alumni 212. Aksi belakangan mulai menuai pro dan kontra. Beberapa pihak bersuara untuk menolak aksi ini dengan alasan kebangsaan dan sebagainya. [hpy]

Komentar

x