Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 18 Desember 2018 | 23:31 WIB

Polres Banyuwangi OTT Pungli PTSL Desa Banyuanyar

Selasa, 27 November 2018 | 13:48 WIB

Berita Terkait

Polres Banyuwangi OTT Pungli PTSL Desa Banyuanyar
(Foto: beritajatim)

INILAHCOM, Banyuwangi - Kepolisian Resort (Polres) Banyuwangi melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) dugaan pungli Pendaftaran Tanah Sistematik Lengkap (PTSL) di Kecamatan Kalibaru.

Tersangkanya merupakan Ketua Kelompok Masyarakat (Pokmas) PTSL Desa Banyuanyar, Kecamatan Kalibaru, Gito Suprayogi (45).

Gito ditangkap saat melakukan penyelesaian transaksi di Kantor BRI Unit Cabang Kalibaru di Jalan Raya Jember, Desa Kalibaru Wetan, Senin (26/11/2018) pukul 11.30 WIB.

Menurut Kapolres Banyuwangi AKBP Taufik Herdiansyah Zeinardi, Gito sudah terlibat transaksi pengurusan sertifikat dengan Hj. Khoiriyah (41), warga Curah Leduk, Desa Banyuanyar. Saat itu, Hj. Khoiriyah yang menjadi pelapor tengah mengajukan pengurusan sertifikat untuk tiga bidang lahannya.

"Saat itu, tersangka sebelum menjadi ketua Pokmas PTSL, pada 2016 pelaku pernah menjadi anggota Prona. Dan pada tahun 2017 diangkat menjadi ketua Pokmas PTSL," ujarnya.

"Dan saat itu, terjadi kesepakatan biaya untuk mengurus tiga bidang lahan itu sebesar Rp 40 juta. Padahal sesuai dengan aturan yang ada, satu bidang tanah biaya pengurusan sertikat hanya 700 ribu rupiah. Desember 2017 sertifikat itu sudah jadi tapi tidak langsung diberikan kepada pemohon," jelas AKBP Taufik HZ.

Kemudian, kata Taufik, Gito meminta korban untuk segera melunasi biaya yang telah disepakati. Akhirnya pelapor berupaya memenuhi permintaan tersangka dengan menyerahkan uang Rp 10 juta.

"Namun dari tiga sertifikat yang diajukan hanya satu saja yang diberikan. Akhirnya korban mengadukan perkara ini kepada aparat kepolisian,"

"DP awal sudah diberikan Rp 7,5 juta. Kemudian ditambah lagi Rp 5 juta. Dan disetorkan lagi Rp 10 juta. Totalnya sudah 22,5 juta," tambahnya.

Dari hasil pengembangan sejak 2016 pelaku sudah mengurus 300 bidang. Dari jumlah itu hanya satu bidang saja yang gagal. Besaran anggaran yang diminta tidak sama.

"Sejak tahun 2017 keuntungan yang masuk ke pihak tersangka sejumlah Rp 150 juta," ujarnya.

Polisi mengganjar tersangka dengan hukuman Pasal 12 huruf e UURI No.31 Tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi sebagaimana diubah dengan UURI No.20 Tahun 2001. Ancaman hukumannya paling singkat 4 tahun dan maksimal 20 tahun.

Selanjutnya, penyidik Unit Tipikor Satreskrim Polres Banyuwangi sedang mencari tahu keterlibatan pelaku lain dalam kasus ini. Karena dalam Pokmas PTSL beranggotakan empat orang. Sekaligus untuk membuktikan aliran dana yang diterima tersangka mengalir kemana saja.

"Ada pula barang bukti sebuah sertifikat, uang tunai Rp 10 juta, kuitansi serta alat bukti lainnya," pungkasnya. [beritajatim]

Komentar

Embed Widget
x