Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 15 November 2018 | 03:58 WIB

KPK Minta Imigrasi Lakukan Pemeriksaan Internal

Oleh : Fadli Zikri | Jumat, 9 November 2018 | 14:38 WIB

Berita Terkait

KPK Minta Imigrasi Lakukan Pemeriksaan Internal
Juru Bicara KPK Febri Diansyah - (Foto: Inilahcom/Ivan S)

INILAHCOM, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) meminta Imigrasi melakukan pemeriksaan internal terkait lolosnya buronan KPK Eddy Sindoro dalam pelariannya dari Indonesia ke Bangkok. Padahal ketika itu, Eddy Sindoro sudah dideportasi oleh Malaysia ke Indonesia.

Adapun petugas yang perlu diperiksa menurut KPK yaitu petugas Imigrasi yang saat itu bertugas di Bandara Soekarno Hatta atas nama Andi Sofyar.

"Terkait dengan rencana pemeriksaan internal di Imigrasi, kami minta agar pemeriksaan saksi-saksi dilakukan setelah para saksi tersebut memberikan keterangan di pengadilan," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah, Jumat (9/11/2018).

Andi Sofyar sendiri sudah diperiksa oleh KPK sebagai saksi untuk tersangka merintangi penyidikan pengacara Lucas. Bahkan Andi mengembalikan uang Rp30 juta ke KPK yang diterimanya saat meloloskan Eddy Sindoro.

Selain Andi, sejumlah petugas bandara lainnya juga diduga ikut membantu pelarian Eddy Sindoro, mereka yaitu, M. Ridwan selaku Staff Customer Service Gapura yang diminta mencetakboarding pass atas nama Eddy Sindoro, Chua Chwee Chye alias Lie, dan anak Eddy Sindoro, Michael Sindoro. Kemudian, Yulia Shintawati berperan menjemput Eddy, Lie, dan Michael di depan pesawat memakai mobil AirAsia dan langsung menuju Gate U8 Terminal 3 tanpa melalui pemeriksaan imigrasi. Ketiganya diperintah oleh Bowo.

Dari Bowo, Andi Sofyar mendapat imbalan dalam membantu Eddy sebesar Rp30 juta dan satu unit handphone Samsung tipe A6, M. Ridwan mendapat imbalan Rp500 ribu dan satu unit handphone Samsung tipe A6, dan Yulia mendapat Rp20 juta.
Sebelumnya Eddy sempat berstatus buron atau DPO sejak tahun 2016. Dia dikabarkan kerap berpindah tempat disejumlah negara disaat proses penyidikan kasus terhadap Edy Nasution selaku Panitera PN Jakarta Pusat, dan Doddy Aryanto Supeno, pegawai PT Artha Pratama Anugrah anak usaha Lippo Group pada Mei 2016.

Doddy menyuap Edy Nasution terkait penanganan perkara sejumlah perusahaan dibawah naungan Lippo Group di PN Jakarta Pusat maupun Mahkamah Agung. Diduga, pemberian suap itu diperintahkan oleh Eddy Sindoro. Setelah pelarian selama dua tahun, pada Jumat (12/10) pekan lalu akhirnya Eddy menyerahkan diri.
Dalam perkembangan perkara itu, KPK juga menetapkan pengacara Lucas atas dugaan tindak pidana dengan sengaja mencegah merintangi penyidikan KPK terhadap Eddy Sindoro. Dia diduga turut membantu kepergian Eddy Sindoro melarikan diri. [rok]

Komentar

Embed Widget
x